Karl Heinrich Marx dilahirkan pada tanggal 5 Mei 1818 di kota Trier, daerah Rhein, di Prussia, Jerman. Ayahnya, Heinrich Marx, adalah seorang pengacara yang berda. Kedua orang tuanya adalah keturunan rabi-rabi Yahudi, dan konon dari mereka ini Marx mewarisi otaknya yang luar biasa itu. Pada waktu si kecil, Karl, berusia enam tahun, yaitu pada tahun 1824, seluruh keluarganya dibaptiskan dari agama Yahudi menjadi agama Kristen Protestan. Perpindahan agama ini tentulah sangat mempengaruhi jiwa Karl Marx yang masih kecil itu. Marx sangat sukar menerima bahwa satu Tuhan sama dengan tiga Tuhan dan tiga Tuhan sama dengan satu Tuhan. Malah sampai wafatnya ia tidak dapat memecahkan dan menerima Tritunggal itu. Dalam suatu artikel ia menulis dengan herannya: “Dapatkah manusia mempercayai bahwa tiga kali satu sama dengan satu? Lagi pula, yang sangat menimbulkan kesulitan ialah, bila Yesus itu benar-benar Tuhan, mengapa ia harus meminta pertolongan Roh Kudus atau Roh Tuhan seperti kata Yesus: “..Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah” (Matius, 12:28). Tetapi kalau Yesus itu Tuhan, mengapa ia harus berkata: “Ajaranku tidak berasal dari diriku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus aku” (Yohanes, 7:16). Pantaskah Tuhan itu mendengar perintah? Mengapakah maka Tuhan itu tidak sanggup memberi pelajaran-Nya sendiri kepada manusia? Bukankah yang mendengarkan perintah Tuhan itu hanyalah manusia? Hanyalah Nabi seperti Musa?. Seandainya Tuhan itu tiga, maka mengapa Nabi Musa tidak mengatakan atau membuatkan bahwa Tuhan itu tiga? Dan bukankah Yesus mengatakan bahwa dia datang untuk menggenapkan Taurat Nabi Musa dan tidak hendak merombaknya’(Matius, 5:17). Yang mengherankan pula ialah mengapa Kitab perjanjian Baru itu tertulis dalam bahasa Yunani? Bukankah baha ibu Yesus adalah bahasa daerah Aramea, suatu bahasa Yahudi? Bukankah nama ‘Yesus Kristus’ adalah bahasa Yunani, dan bukan bahasa Yahudi?
Ketika dewasa alam pikiran Marx diwarnai oleh Revolusi Industri di Inggris, Revolusi politik dan aliran sosialis di Perancis serta Revolusi Intelektual di Jerman yang menggugat keaslian Bibel sebagai pencatatan kata-kata Tuhan. Tak dapat disangkal bahwa Gereja telah gagal menghadapi kehancuran social, kebengisan, pengisapan manusia oleh manusia; malah sebaliknya, Gereja telah dipakai sebagai alat oleh kaum yang berkuasa untuk mengeruk tenaga kaum buruh yang miskin, yang menyebabkan Marx mengutuk agama.