Ketamakan manusia telah kembali ke zaman orang-orang Funicia mencari uang, loba dan tamak. Dogma-dogma Gereja yang tidak rasional, yang menjadi sumber intoleransi dan kecemburuan agama, telah disodorkan kepada kaum politisi Barat, dan pada saat yang sama telah menjadi aksioma politik. Maka dengan slogan keagamaan ini, sejak abad kelima belas, Gereja mengadakan politik kolonialnya melalui Spanyol, Portugis, Belanda, Perancis dan Inggris dengan mengadakan invansi penjajahan ke segala penjuru dunia. Beribu-ribu budak diangkut ke Eropa dan Amerika. Orang-orang Afrika hitam yang pada masa Nabi Muhammad mendapat tempat yang mulia, sekarang telah menjadi pusat sasaran keganasan rasialis dari dunia Barat Kristen. Para Padri dan para Uskup selalu menemani pasukan penjajah bertempur dengan maksud ‘memberi inspirasi’ sekaligus menyebarkan dogma Kristen. Kehausan kaum kapitalis yang bengis dan tamak akan kekayaan itu telah mengakibatkan banyak negara yang lemah di dunia ini menjadi lebih miskin dan semakin sengsara. Agama Kristen yang ajarannya berdasarkan kasih sayang, yang seharusnya diturunkan Tuhan untuk memandu manusia dalam melawan ketamakan dan keserakahan, bukan saja menjadi tidak berdaya untuk mencegah penindasan dan pengisapan manusia oleh manusia, Gereja malah menyerahkan dogma, intoleransi, kebencian dan kecemburuan agama kepada kaum politisi negara kapitalis tersebut sehingga menjadi aksioma politik. Dengan berkedok agama, mereka memperkosa hak-hak manusia yang berjuta-juta jumlahnya, selama beratus-ratus tahun dan mengalirkan banyak sekali darah dari rakyat yang tak berdosa. Karena filsafat cinta yang di kemukakan Gereja ini- lah sehingga Engels mengatakan bahwa agama Kristen merupakan “agama budak, agama orang buangan, agama orang yang habis dirampok, agama orang buruan, agama orang yang ditindas”, karena ajaran-ajarannya yang menyuruh memberi pipi kanan apabila pipi kiri ditampar, memberi jubah bila bajunya diambil orang dan sebagainya, hanyalah anjuran-anjuran untuk memperkosa budak dan kaum tertindas (F.Engels, Anti-Duhring, hal. 169). Maka bukankah ada benarnya perkataan Marx bahwa agama merupakan racun candu masyarakat?. Dan tidaklah mengherankan bila seorang ahli teori komunis, Bucharin, menganggap bahwa ajaran Kristen tentang kasih dan penebusan dosa adalah musuh yang paling berbahaya bagi komunisme? (Dr. J. Verkuyl, Komunisme, Kapitalisme dan Injil Kristus, hal. 43). Seorang filosof kenamaan, Friedrich Nitzsche, mengatakan bahwa filsafat kasih sayang yang tidak dikontrol oleh akal bukanlah dari ajaran Kristus.
Tentang situs ini:
- Kabar dari gurun pasir
Taut
Pages
Kategori:
- Archives (1)
- Dapur Kita (1)
- Just For Laugh (11)
- Kisah Palui (6)
- Mimpi Apa Semalam (1)
- Opini (1)
- Resonansi & Renungan (2)
- Selingan (2)
- Senandung Jiwa (5)
Bulanan:
- Juli 2008 (1)
- Januari 2008 (2)
- Desember 2006 (19)
- September 2006 (10)
Blog pada WordPress.com. — Theme: Connections by www.vanillamist.com