Gereja Kristen selalu mengemukakan akan kebenaran histories kitab-kitab sucinya, tetapi sebaliknya, ilmu pengetahuan di sekitar kehidupan Marx membuktikannya sebaliknya. Mengenai pertanyaan bagaimana Injil kita yang sekarang ini muncul, dikatakan oleh Dr. Strausz: “apabila kita menyelidiki penyaksian yang paling tua tentang adanya dan keaslian Injil yang kita pakai sekarang, maka amatlah nyata bahwa Injil-Injil kita sekarang ini tidaklah dikenal sampai akhir abad kedua, dan nanti disitir oleh Bapak-bapak Gereja Irenaeus (150-202). Clemens (150-220) di Alexandria, Tertullianus (155-222) di Kartago, sebagai karangan-karangan berjudulkan nama-nama apostel atau murid-murid mereka. Namun demikian, pada masa itu amatlah banyak Injil-Injil, seperti Injil Ibrani, Injil Mesir, Injil Petrus, Injil Martholomeus, Injil Thomas, Injil Matias, Injil Duabelas Rasul dan sebagainya, yang bukan saja dipakai oleh keluarga atau perkumpulan-perkumpulan yang mempercayai bidat (bid’ah), tetapi juga dipergunakan oleh kaum Gereja yang saleh-saleh. Namun yang diakui sebagai dasar kepercayaan Kristen pada masa ini hanyalah empat, yaitu Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, Injil Yohanes. Kita bertanya: mengapa maka harus empat, tidak lebih dan tidak kurang? Irenaeus menjawab pertanyaan kita: “Injil adalah fundasi Gereja, dan Gereja telah tersebar ke seluruh dunia, sedang dunia terdiri dari empat benua (?); maka patutlah bila diambil empat buah Injil. Kemudian, Injil adalah napas kehidupan Ilahi, atau napas manusia; juga di dunia terdapat empat mata angina, maka juga haruslah empat Injil. Atau Kalam (logos, firman) pencipta dunia mempunyai Therubim, Therubim mempunyai empat tubuh, maka Logos itu juga memberikan kepada kita empat buah Injil. (Starusz, Das Lebens Jesu.., 1864 halaman 23). Demikianlah keputusan Irenaeus, yang tidak berdasarkan akal sehat dan tidak pula berdasarkan wahyu Ilahi. Bukankah di antara Injil-Injil yang lain itu mungkin juga terdapat yang benar? Sarjana-sarjana modern sependapat dengan Dr. Strausz bahwa ketiga Injil permulaan, yaitu Injil Matius, Markus, dan Lukas yang terkenal dengan nama Injil sinoptik, karena persamaan rangkaian ceritanya telah ditulis bersamaan dan bersumber pada Injil Markus. Sedang Injil Yohanes yang sama sekali bukan ditulis oleh Yohanes, murid Yesus, baru timbul setelah lama berselang dari sumber-sumber Neoplatonis.
Bruno Bauer (1809-1882), seorang ahli Teologi Kristen, yang turut pula menggoncangkan iman Marx karena kritikannya terhadap Bibel, menganggap bahwa Yesus bukanlah orang yang pernah lahir ke dunia ini, tetapi hanyalah suatu tokoh mitos yang disejarahkan oleh para filosof Neoplatonis karena riwayat hidup Yesus begitu bersimpang siur dan telah sukar dibersihkan. Thomas Paine (1737-1809), pengarang buku The Age of Reason, menyangkal keaslian Bibel setelah mempelajari sejarah terbentuknya Injil, dan menyatakan bahwa catatan sejarah keempat Injil yang dipakai sekarang adalah hasil pemilihan dari berpuluh-puluh Injil yang terdapat pada zaman dahulu atas nasihat Irenaeus itu. Thomas Paine berkata: “Pada Konsili-konsili Nikea dan Laodokia, yang diadakan kira-kira setelah tiga ratus lima puluh tahun sesudah Yesus dikatakan lahir, kitab-kitab yang sekarang membentuk Kitab Perjanjian Baru telah diundi melalui pemungutan suara dengan “ya” dan “tidak” seperti cara kita sekarang menentukan undang-undang. Sejumlah besar tulisan telah mendapat suara mayoritas “tidak” dan telah ditolak. Beginilah cara timbulnya Kitab Perjanjian Baru. Demikianlah, dengan pemilihan suara, mereka memutuskan kitab-kitab mana dari koleksi mereka yagn harus dianggap sebagai kata-kata Tuhan, dan mana yang tidak boleh dianggap sebagai kata-kata Tuhan. Mereka telah menolak kitab-kitab yang lain, yaitu yang terkenal dengan nama kitab-kitab Apocrypha – Injil-Injil Rahasia, di antaranya Injil Barnabas.
Harold Sherman dalam bukunya You Live after Death, mengatakan: “Ingatan manusia bercacat. Kenangan-kenangannya akan peristiwa dalam setahun hanya akan tinggal lima puluh persen, sehingga tidaklah dapat dipercayai. Murid-murid Yesus adalah orang-orang yang buta huruf. Laporan-laporan mereka dicatat, lama setelah meninggalnya Kristus. Jelas bahwa mereka tidak memiliki catatan-catatan tertulis tentang pengalaman-pengalaman mereka dengan dia serta penyaksian mereka akan kejadian-kejadian yang mengenai diri mereka, dianggap telah diwarnai oleh perbedaan-perbedaan pendirian dan pengamatan. Karena Kristus sendiri tidak meninggalkan catatan tertulis, maka mereka yang kemudian menulis kitab-kitab Bibel, tergantung serluruhnya dari ingatan-ingatan yang disampaikan dari mulut ke mulut, generasi demi generasi, malah telah jauh keluar dari kebenaran dan keseksamaan dari apa yang sebenarnya telah terjadi”. Dari sini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa dari pendapat para ahli teolog dan sarjana Jerman, Bibel bukanlah merupakan pencatatan penyaksian mata, tetapi sebaliknya, Bibel baru timbul setelah selang lama: Injil-Injil yang ada sekarang ini bukanlah otentik dan asli. Mereka juga berpendapat bahwa Injil dan tradisi Gereja telah diinfiltrasi oleh ajaran-ajaran Yunani. Dan kaum teolog dan sarjana ini membuktikan pula bahwa ajaran-ajaran seperti Tuhan Bapa, Tuhan Anak, atau Penjelmaan Tuhan menjadi manusia, dalam agama Kristen, pada hakekatnya berasal dari Hinduisme. Sarjana-sarjana itu membuktikan bahwa sakramen-sakramen seperti pembaptisan, umpamanya, berasal dari Sanscaras dari Hinduisme; pembaptisan dalam agama Hindu diperintahkan dalam Atharva-Veda yang menganjurkan bayi-bayi yang lahir dimandikan di Sungai Gangga atau dengan air suci, supaya selamat dalam perjalanan reinkarnasi. Namun semua ini hanyalah interpretasi kaum teologia karena timbul oleh keraguan mereka terhadap keaslian Injil. Mereka menganggap Injil sebagai suatu buku falsafah Neoplatonis yang mitologik dengan Yesus Kristus sebagai tokoh mitos. Sebagian lagi sama sekali menolak adanya Tuhan, seperti Feuerbach, Marx dan Engels.