<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Alimna Ya Rab</title>
	<atom:link href="http://maydi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://maydi.wordpress.com</link>
	<description>Kabar dari gurun pasir</description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 Jul 2008 15:55:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='maydi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/59153c8999962bae1b8c5c1f43679f7a?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Alimna Ya Rab</title>
		<link>http://maydi.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Laporan dari Cairo</title>
		<link>http://maydi.wordpress.com/2008/07/13/laporan-dari-cairo/</link>
		<comments>http://maydi.wordpress.com/2008/07/13/laporan-dari-cairo/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 15:55:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anang Banjar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimpi Apa Semalam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maydi.wordpress.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Kemaren hari sabtu, 12 juli 08. Gubernur kalsel meresmikan rumah baru ntuk mahasiswa kalimantan selatan disini.. beberapa rombongan pada ikut, mungkin sekitar 9 orang. rame banget acaranya soalnya kita makan nasi mandi atau rus mandi, ga tau kenapa di namain mandi padahal nasinya ga bisa mandi sendiri.
ouh iyah.. saat itu sy yang jadi penerima tamunya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maydi.wordpress.com&blog=390349&post=90&subd=maydi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kemaren hari sabtu, 12 juli 08. Gubernur kalsel meresmikan rumah baru ntuk mahasiswa kalimantan selatan disini.. beberapa rombongan pada ikut, mungkin sekitar 9 orang. rame banget acaranya soalnya kita makan nasi mandi atau rus mandi, ga tau kenapa di namain mandi padahal nasinya ga bisa mandi sendiri.<br />
ouh iyah.. saat itu sy yang jadi penerima tamunya, padahal udah ada panitianya tapi ga tau kenapa saat gubernur datang malah sy yang menerimanya, lumayan baru pertama kali sy bisa langsung salaman dengan gubernur karena selama ini sy hanya mengenal beliau dari media.<br />
pas waktu acara, orang-orang pada ngumpul termasuk sy.. baru aja pembawa acara mengucap sepatah dua patah kata, temen yg sy panggil namanya Mbah langsung manggil minta bantuin beli kaset video dvd, hmm.. kepaksa dah bantuin dia pergi beli kaset ke hay 7, padahal niatan mo ikutin acara sampai selesai.<br />
Pak gubernur menurut sy orangnya santai, ga terlalu jaim soalnya waktu selesai acara enak aja beliau di ajak ngomong berdiri sambil ngerokok di depan beliau..<br />
Jam 2 siang, rombongan beserta gubernur meninggalkan tempat acara, well.. kesan yg sy ambil hari itu mengesankan, setidaknya para rombongan juga cepat akrab tanpa ada jaga image sebagai pejabat.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maydi.wordpress.com/90/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maydi.wordpress.com/90/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maydi.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maydi.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maydi.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maydi.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maydi.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maydi.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maydi.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maydi.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maydi.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maydi.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maydi.wordpress.com&blog=390349&post=90&subd=maydi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maydi.wordpress.com/2008/07/13/laporan-dari-cairo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a361ae76f536ccf3675954b781a4d28c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Anang Banjar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ego</title>
		<link>http://maydi.wordpress.com/2008/01/22/ego/</link>
		<comments>http://maydi.wordpress.com/2008/01/22/ego/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jan 2008 13:10:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anang Banjar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maydi.wordpress.com/2008/01/22/ego/</guid>
		<description><![CDATA[Agama mengajarkan &#8220;cintailah sesamamu&#8221;. Orang yang tidak mau menaruh perhatian pada sesamanya, yang bersikap egois pasti akan menderita kesulitan besar dalam hidupnya, kesulitan bersosialisasi dan kesulitan beradaptasi. Orang yang memiliki typical egois sangat menyusahkan orang lain, dan orang-orang semacam itulah yang menyebabkan kegagalan seluruh umat, hancurnya peradaban, kebudayaan, dan kelestarian dalam membina keharmonisan karena mementingkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maydi.wordpress.com&blog=390349&post=72&subd=maydi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Agama mengajarkan &#8220;cintailah sesamamu&#8221;. Orang yang tidak mau menaruh perhatian pada sesamanya, yang bersikap egois pasti akan menderita kesulitan besar dalam hidupnya, kesulitan bersosialisasi dan kesulitan beradaptasi. Orang yang memiliki typical egois sangat menyusahkan orang lain, dan orang-orang semacam itulah yang menyebabkan kegagalan seluruh umat, hancurnya peradaban, kebudayaan, dan kelestarian dalam membina keharmonisan karena mementingkan hak prinsipil tanpa memerhatikan kondisi sekitar dengan memprioritaskan kepentingan umum.</p>
<p>Kita berharap dari setiap perangai manusia agar mereka menjadi sosok yang memiliki sifat peka terhadap lingkungan dimana dia tinggal dan mempunyai jiwa sosial tinggi yang simpatik, sahabat bagi sesamanya serta pribadi yang menyenangkan dalam komunitasnya. Bukan malah sebaliknya, menjadi musuh bagi rekannya serta menjadi sumbu api yang menyulut kekacauan, ketidak harmonisan yang akhirnya menciptakan kondisi pergaulan tidak kondusif. Satu sama lainnya tidak pernah bertegur sapa, saling gondok-gondokkan, mau menang sendiri, ujung-ujungnya saling menceritakan aib dan kejelekan. Tanpa disadari, dimensi waktu (pertikaian) yang dilalui telah membutakan mata, memekakkan telinga lalu kosong, hampa. Komunitas dimana mereka tinggal berubah menjadi kebuasan, keharmonisan menjadi perkelahian dan ketenangan berubah menjadi kegalauan, siapa kuat dialah yang keluar sebagai pemenang, siapa yang sanggup menghadapi kerusakan dan kekacauan dialah sang juara diantara binatang-binatang liar. Lantas! Yang lemah, murung dalam ketidak berdayaan sambil merenungi kondisi lingkungan hidup yang teramat ganas, tiada peraturan, tiada batasan norma, tiada hakim, akhirnya yang lemah menjadi pecundang, terbawa arus pergaulan dan akhirnya diapun menjadi picik dan licik.</p>
<p>Jadilah manusia yang berperasaan, wajar dan matang. Percayalah! Disaat  paradigma egois yang memiliki sifat dasar ingin menang sendiri tak lagi digunakan kemudian berusaha untuk menegakkan sendi-sendi  kebersamaan yang biasanya tegak berdiri dalam suasana rukun dan harmonis niscaya kehidupan dunia semakin bersemarak dan alam raya pun tersenyum, terpukau oleh keadaan hidup manusia yang bersahaja, yang berusaha untuk menyenangkan sesama, setidaknya untuk menciptakan suasana yang bersahabat yang mana kawan bukanlah lawan, yang mana sahabat bukanlah penjahat.</p>
<p>Altruisme (Sikap mementingkan hajat public) begitu dibutuhkan pada kondisi negara kita yang sekarang ini sering di timpa kemalangan dan musibah. Alangkah indahnya jikalau penguasa dan pengusaha mempunyai jiwa altruisme niscaya tidak lagi terdengar keluh kesah rakyat Indonesia. Para pemimpin tidak lagi terpaku  Kaum kaya raya mau membagi sedikit hartanya Gunakanlah hati nurani, akal dan perasaan! Ciptakanlah suasana lingkungan dimana kita berdiam penuh dengan nilai norma dan susila yang patut, minimalnya berusaha untuk menjaga kebersihan dan peraturan yang berlaku.<br />
Terakhir, saya ingin mencoretkan sebuah ilustrasi buat kawan setumpuk- sependeritaan di banua urang:</p>
<p>Bila engkau wahai kawan tidak bisa jadi pohon cemara diatas bukit<br />
Jadilah belukar dilembah- tapi harap jadilah belukar indah dipinggir parit<br />
Bila engkau tidak bisa jadi rajawali yang terbang tinggi dicakrawala<br />
Jadilah nuri yang berkicau indah didahan<br />
Bila engkau wahai sahabat tidak bisa jadi pelipur lara dikala duka<br />
Jadilah sebuah oase kedamaian ditengah badai pasir kehidupan<br />
Bukan besarnya yang mengukur engkau kalah dan menang<br />
Yang penting jadilah wajar dan matang …………</p>
<p>&#8220;kebahagian untuk diri sendiri tergantung pada kebahagiaannya dalam diri orang lain dan kebahagiaan mereka ada dalam dirinya&#8221;.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maydi.wordpress.com/72/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maydi.wordpress.com/72/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maydi.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maydi.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maydi.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maydi.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maydi.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maydi.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maydi.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maydi.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maydi.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maydi.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maydi.wordpress.com&blog=390349&post=72&subd=maydi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maydi.wordpress.com/2008/01/22/ego/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a361ae76f536ccf3675954b781a4d28c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Anang Banjar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kiat jadi Dai Muda</title>
		<link>http://maydi.wordpress.com/2008/01/09/kiat-jadi-dai-muda/</link>
		<comments>http://maydi.wordpress.com/2008/01/09/kiat-jadi-dai-muda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jan 2008 22:19:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anang Banjar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Archives]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maydi.wordpress.com/2008/01/09/kiat-jadi-dai-muda/</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini merupakan ringkasan yang saya sadur ulang dari buku yang berjudul Kiat jadi Dai Muda karangan Ust. Jefri Al-Bukhari. 
Cairo, Friday 4 January 2008

 Belajar dari kepala dan leher
 
Kenapa kita belajar pada kepala dan leher. Karena saat menengok sedikit ke atas kita bisa melihat keindahan. Tapi kalau terlalu mendongak ke atas memang juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maydi.wordpress.com&blog=390349&post=74&subd=maydi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Tulisan ini merupakan ringkasan yang saya sadur ulang dari buku yang berjudul Kiat jadi Dai Muda karangan Ust. Jefri Al-Bukhari. </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>Cairo, </span>Friday 4 January 2008</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;">
<p><strong> Belajar dari kepala dan leher</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr">Kenapa kita belajar pada kepala dan leher. Karena saat menengok sedikit ke atas kita bisa melihat keindahan. Tapi kalau terlalu mendongak ke atas memang juga melihat keindahan tapi leher kita sakit bahkan susah bicara. Hemat saya kalau bercita-cita<span> </span>jangan ketinggian nanti sakit. Leher dan kepala bagi saya mengajarkan tentang hidup. Lebih bertahan mana antara orang yang banyak melihat ke atas dan kebawah? Kenapa? Karena mentalitas, fisik, spiritual lebih bertahan, lebih kuat dengan tawadhu, rendah hati.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span> </span><span> </span>Tahap persiapan Ceramah</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span><span> </span> Ada<strong> </strong>pepatah latin yang berbunyi: <strong><em>&#8220;Qui ascendit sine labore, descendit sine honore&#8221;. </em></strong>(mereka yang naik tanpa kelelahan akan turun tanpa kehormatan). Jadi bukan hanya sekadar kata mutiara. Pidato atau ceramah yang baik harus didahului dengan persiapan yang matang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span><span> </span>Memasuki inti persiapan adalah <em>memilih topic dan menentukan tujuan</em>. Tujuan sering kali menentukan pemilihan topic. Misalnya, kita sebagai dai merasa lingkungan sekitar kurang memiliki minat besar terhadap pengamalan dan pengajiran quran. Nah sewaktu kita diundang ceramah kita ingin agar agar ceramah kita bisa mendorong atau membangkitkan minat-minat tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong>Cara menentukan Topik yang baik:</strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span> </span></strong></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><strong><span>Topik      yang dipilih sesuai dengan latar belakang pengetahuan kita. </span></strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Karena dengan demikian kita sedikit lebih tahu/ahli dari pendengar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span><strong>2.<span> </span>Topik harus menarik minat kita sendiri. </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Topik yang paling enak dibicarakan adalah topic yang menyentuh emosi anda. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Misalnya, tarulah kita sudah lama memendam rasa prihatin yang dalam<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>terhadap kebersihan. Tahu-tahu suatu saat kita diminta ceramah dengan topik </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>yang berkaitan dengan ini, maka concern lama kita ini otomatis akan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>merupakan pendorong yang membuat kita lancar bicara.</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><strong><span>Topik      harus menarik minta pendengar.</span></strong></li>
<li class="MsoNormal"><strong><span>Topik      harus jelas ruang lingkup dan pembahasannya. </span></strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Jadi topik tidak boleh terlalu luas karena di khawatirkan akan ngawur kesana kemari sehingga pendengar tidak bisa menangkap inti pembicaraan kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Dari semua kreteria ini sebenarnya bisa disimpulkan menjadi dua saja, yaitu pertama, topik harus benar-benar anda kuasai dan merupakan keprihatinan (concern) anda sendiri dan yang kedua, ruang lingkupnya harus jelas dan disesuaikan dengan minat pendengar serta tantangan situasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span><span> </span>Ceramah biasanya memiliki tujuan ini: <em>memberitahukan</em> (informatif), <em>mempengaruhi</em> (persuasif), dan <em>menghibur</em> (rekreatif).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span><span> </span><span> </span>Tahap Penyusunan Materi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Sebuah materi ceramah <em>akan lancar</em> jika memenuhi 3 syarat: 1) menyatu padu (unity); 2) bertautan (coherence); 3) adanya titik berat/penekanan (emphasis).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span>Teknik Penyusunan Materi </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Pada pokoknya teknik <em>outline</em> terbagi dua, yaitu: Pertama, outline yang menggunakan <strong>lambang angka </strong>atau<strong> kombinasi lambang angka dan huruf. </strong>Kedua, outline yang menggunakan &#8220;<strong>pohon</strong>&#8221; <strong>gagasan</strong>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Contoh dengan <strong>lambang kombinasi</strong>: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>I.</span><span> _________________________________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>A. ______________________________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>1. _____________________________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>a. ___________________________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>b. ___________________________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>2. _____________________________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>a. ___________________________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>b. ___________________________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>B. _______________________________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>1. _____________________________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>a. ___________________________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>b. ___________________________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>2. _____________________________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>a. ___________________________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>b. ___________________________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>II. _________________________________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>…dan seterusnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Keterangan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span><span> </span>Lambang I disejajarkan dengan pasangannya di bawah yaitu lambang II; A disejajarkan dengan B, begitu seterusnya. Manfaatnya selain tidak mengaburkan pikiran penceramah sendiri karena sudah jelas posisi masing2x juga untuk menunjukkkan bahwa uraian I berposisi sejajar dengan uraian II, sehingga kalau I berisi pengantar, maka II sudah jelas adalah bagian isi dan III adalah penutup. Lalu kalau uraian A berisi contoh penunjang untuk bagian pengantar ( uraian I), berarti uraian B pun masih berisi contoh penunjang untuk bagian yang sama pula; misalnya uraian A adalah contoh pertama sedang uraian B adalah contoh kedua, begitu seterusnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span>Praktik latihan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span>&#8220;</span></em><span>Untuk menjalani kehidupan yang kreatif, kita harus menyingkirkan ketakutan kita untuk berbuat salah.<em>&#8220;</em> <em>Joseph Chilton Pearce.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span>&#8220;</span></em><span>Apa pun yang dapat Anda lakukan, atau ingin Anda lakukan, mulailah! Keberanian untuk memulai memiliki kecerdasan, kekuatan dan keajaiban didalamnya.<em>&#8220;Goethe.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Kalau anda sudah mengerti pada penjelasan di atas tadi, sudahkah anda ingin mempraktikannya? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Untuk ini kita coba mengambil contoh terhadap ceramah Aa gym yang berdekatan dengan peringatan 17 Agustus. Waktu itu topiknya Kita coba menyontoh kepada ceramah Aa Gym <strong>Indahnya Rasa Syukur</strong>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Apa yang anda pikirkan seandainya diminta ceramah dengan topik tersebut? Uraian apa yang bisa anda pikirkan tentang tema itu? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Aa Gym dengan cemerlang mengantari topic tersebut dengan pertanyaan tentang hakikat merdeka, karena suasana peringatan kemerdekaan RI masih terasa hangat dikalangan hadirin. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>&#8220;Kemarin dengan penuh rasa syukur kita telah memperingati hari kemerdekaan bangsa kita. Apa sih sebenarnya yang dimaksud merdeka itu?&#8221; kira-kira begini pertanyaan retoris beliau. &#8220;Selain merdeka dari penjajahan, merdeka dalam arti sebenarnya adalah merdeka dari hawa nafsu; merdekanya hati kita dari segala hal yang mengimpitnya: dari obsesi berlebihan, mode, gengsi-gengsian, dan sebagainya, sehingga hati kita akan terasa lapang bahagia, walau dalam keadaan apa pun.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Setelah itu beliau lalu masuk pada macam-macam contoh orang yang sebenarnya, disadari atau tidak masih terjajah!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Ada orang yagn jadi korban mode. Dengan gaya ceritanya yang hidup beliau menceritakan pengalamannya sendiri. Kira-kira begini: &#8220;Dulu waktu Aa masih SMA, Aa juga pernah jadi korban mode. Waktu itu Aa ingin rambut Aa yang lurus seperti lidi ini jadi keriting, ngikutin mode biar kayak artis dunia terkenal… Dengan susah payahhnya Aa mau-maunya duduk berjam0jam dan bolak-balik ke salon hanya untuk rambut keriting itu. Eh karena rambutnay memang lurus begini, bukannya keriting gaya seperti.. malah rambut Aa jadi makin amburadul:&#8221; Para hadirin pun riuh tertawa. &#8220;Ini yang namanya korban mode,&#8221; lanjut beliau. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>&#8220;Ada juga orang jadi budak obsesinya sendiri. Dia ingin harta sebanyak-banyaknya, menumpuk terus sampai tak kenal leah tak kenal waktu. Rumahnya megah seperti istana, mobil mewah gonta ganti terus. Taman luas dan vila asri pun sudah tercapai. Eh anehnya dia belum puas puas juga. Keadaan serba ada yang dulu dia bayangkan seperti surga malah terasa biasa-biasa saja, seperti hambar-hambar saja.. sama sekali tak ada lagi kejutan nikmatnya! Sering ia suntuk, sumpek, resah dan gelisah…&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>&#8220;Ada juga orang yang terlalu memikirkan gengsi materi. Takut sekali kalau dianggap rendah dan ketinggalan zaman sama orang. Mobilnya epngen merek wah, rumahnya pengen di kompleks paling elit, pokoknya segalanya pengen yang paling bergengsi. Sedikit saja ada keinginan gengsinya yang belum tercapai, dia ngerasa seperti minder dan rendah diri. Dia terus terobsesi mimpinya untuk mengejar dan mengejar gengsi…..&#8221; Ssegera berondongan kata-kata ini disusul Aa dengan gaya dan nadanya yang khas sekali: &#8220;Tahu-tahu, O! Dia stress dan akhirnya mati!&#8221; Para hadirin pun tersenyum geli.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Setelah menceritakan contoh-contoh itu lalu beliau menandaskan: &#8220;Orang-orang seperti itulah yang sebenarnya hidupnya masih dijajah. Merasa bebas padahal terjajah, merasa merdeka padahal jadi budak. Tanda-tandanya: Pikiran sumpek, jiwa kering kerontang, rentan stress, dan penyakitan.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Nah bagaimana Ibu-ibu/Bapak-bapak, apa di sini ada yang mau terjajah? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Aa melanjutkan: &#8220;Supaya kita bebas merdeka, jiwa lapang terasa bahagia, kita harus menemukan kuncinya. Kuncinya adalah, <strong><em>Rasa syukur! Rasa syukur! </em></strong>Kemerdekaan pun tidak akan menghasilkan apa-apa kalau tidak diisi dengan rasa syukur. Bagaimana mungkin situasi merdeka ini bisa membuahkan kebahagiaan bila kita sia-siakan begitu saja, bila tidak digunakan sebaik-baiknya dan tidak kita syukuri? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Memang harus kita akui situasi merdeka sendiri adalah sebuah kenikmatan besar. Dengan perubahan nada yang kalem Aa melirik pada Teteh: &#8220;Mah gimana ingat tidak waktu susahnya zaman terjajah?&#8221;….. Jelas situasinya serba sulit dan mencekam. Sudah pailit takut &#8220;didor&#8221; pula. Jadi situasi merdeka memang nikmat luar biasa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Tapi ingat, nah ini kuncinya, jangna lupa bahwa betapapun situasi merdeka itu kenikmatan besar, tapi kenikmatan sendiri bukan tergantung pada situasinya, melainkan pada rasa syukur kita sendiri! Banyak orang yang situasinya bebas, bahkan serba ada, tapi kerjaannya malah hura-hura, ke sana kemari tidak jelas apa yang dia maui, sehingga kahirnay situasi itu tak pernah mendatangkan kebahagiaan. Banyak orang kaya yang tak kurang apa pun, tapi situasi serba ada malah terasa biasa-biasa saja, hambar saja, bahkan suntuk dan bosan. Ini sekali lagi karena kenikmatan bukan <em>tergantung</em> pada situasi, kebahagiaan bukan terletak pada apa yang kita miliki, tidak sama sekali, melainkan pada hati yang penuh syukur. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Betapapun berlimpahnya harta kita, tapi kalau hati kita tidak mau syukur, tidak merasa harta itu sebagai limpahan nikmat yang luar biasa, maka semua itu akan terasa hambar saja. Jadi kuncinya adalah hati yang penuh syukur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Ada seorang kuli bangunan yang dengan giatnya terus bekerja di bawah terik mentari. Saking giatnya tanpa terasa tahu-tahu waktu makan sudah tiba. Dia tampak senang sekali. Begitu makanan sederhana itu dihidangkan, dengan lahapnya ia menyantap. Ia tampak nikmat sekali. Kebetulan seorang pemimpin proyek melihatnya. Ia sendiri sudah 3 hari sedang tidak enak makan, karena pusing mikirin proyek dan takut gagal. Dalam hati ia sangat iri. &#8220;Wah seandainya aku bisa makan senikmat itu!&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Jadi Bapak/Ibu, Adik-adik, mau pilih jadi kuli atau pemimpin proyek?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Jadi sebenarnya nikmat itu datangnya bukan dari situasi, bukan dari harta kekayaan, tapi dari bagaimana hati bersikap, penuh syukur apa tidak? Makan dengan ikan asin pun, seperti saya ceritakan tadi, kalau hati lagi penuh syukur terasa begitu nikmat. Sebaliknya banyak orang yang saking banyak menu malah puyeng memilih, udah gitu tidak nikmat lagi. Jadi betapa nikmat dan indahnya rasa syukur!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Sekarang masalahnya, bagaimana biar kita punya rasa syukur, biar hati kita penuh syukur terus, biar hidup kita terasa nikmat dan bahagia?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Supaya kita bisa syukur terus, ada 5 kunci.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span>Pertama</span></em><span>, ingat selalu bahwa hidup ini milik Allah, semua yang kita miliki hanya titipan dari Nya. Dengan ngerasa hidup ini sebagai titipan, sebagai pinjaman, kita akan ngerasa betapa detik demi detik hidup ini amat berharga, merupakan kepercayaan dari Allah. Sebab kapan pun Allah mau, hidup kita ini tahu-tahu akan habis. &#8220;O!&#8221;, mati kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Kunci <em>kedua, </em>biar kita syukur terus, hidup nikmat lapang bahagia, jangan suka ingat apa yang tidak ada, ingat yang ada saja. Kita mau makan lauknya hanya tempe tahu, kalau kita ingatnya daing, wah enak sekali ya kalau saya makan sama daging, maka makan itu tidak akan jadi nikmat. Karena bukannya kita mensyukuri yang ada, malah membayang-bayangkan yang tidak ada. Kalau kita kufur nikmat, kata Allah, maka rasakan azab-Ku yang pedih. Betul, kalau kita kufuri nikmat yang sudah ada, bukannya nikmat itu akan menjadi nikmat, malah kita ngerasa kurang terus, kita ngerasa sengsara dan sedih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Lagipula sekecil atau seremeh apa pun nikmat, sebetulnya dia sangat besar dan luar biasa. Coba lihat contoh tadi, ketika ada tahu dan tempe, lalu hati malah mengeluh karena sedang mengingkari nikmat yang sudah ada. Padahal seandainya nikmat yang sudah ada itu hilang, atau kita nggak dikasih Allah, misalnya nasi dan tempe pun tak punya, maka kesedihan tidak adanya tempe tahu serta nasi itu akan jauh lebih besar daripada sekedar tidak ada daging. Jadi nikmatnya nikmat yang sudah ada sebenarnya luar biasa dan jauh lebih besar disbanding &#8220;kekurangsenangan&#8221; kita atas nikmat yang belum ada. Jadi kalau kita sudah pandai menghargai nikmat yang sudah ada, karena dia sangat luar biasa, kenapa kita harus menginginkan nikmat yang belum ada? Kata para sufi keinginan yang tak perlu itu memang penyakit, bikin stress dan sumpek.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Ini ada kisah nyata. Seorang gadis muda yang berasal dari dusun pergi ke kota bekerja sebagai pembantu dirumah orang kaya……….. dan seterusnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Kunci <em>ketiga</em>, ini sering kita dengar, lihat ke bawah jangan lihat ke atas. Sabda Nabi Saw, &#8220;lihatlah orang-orang yang ada dibawah kalian, jangan melihat orang-orang yang ada di atas kalian.&#8221; Lihat ke atas pasti akan terasa sumpek, rasanya kita seorang diri saja yang kekurangan. Tapi kalau lihat ke bawah, rasanya hati ini akan terasa bahagia. Rasa syukur dengan sendirinya akan mengalir dari dalam hati, sejuk seperti orang yang kehausan tahu-tahu menemukan air.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Kunci <em>keempat, </em>supaya<em> </em>kita bisa terus melihat ke bawah, jangan terlalu sering melirik ke atas, sering-seringlah bertegur sapa dan bercengkrama dengan orang-orang papa. Bantu mereka sebisanya kita. Pasti kita akan sering dapat sejuk air rasa syukur itu. Sebagai manusia yang penuh nafsu, penuh angan dan keinginan, biasanya kita ini lebih cenderung ingin melihat ke atas. Bahkan dorongan itu begitu besarnya sehingga kalaupun kita tahu harus melihat ke bawah, tapi secra tak sadar diam-diam kita sering bahkan hampir lihat ke atas terus. Ini bahaya, bisa bikin stress. Nah lawan kecenderungan ini dengan kebiasaan sedekah, dengan kebiasaan menolong orang yang lagi kesusahan, menengok orang yang sakit dan seterusnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Jadi kalau begitu sedekah itu saja membantu mereka, tapi sebenarnya membantu kita juga. Bahkan boleh jadi kita yang lebih banyak terbantu. Karena dari situ rasa syukur dengan sendirinya akan mengalir. Nikmat apa lagi yang lebih besar dari rasa syukur, yang tanpa itu semua nikmat akan terasa hambar dan lenyap. Boleh anda punya apa saja, tapi kalau tidak ada rasa syukur wah ibarat orang yagn kehilangan seluruh harta bendanya, bahkan hidupnya seperti lenyap ditelan kufur nikmat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Kunci <em>kelima</em>, ridha sama takdir. Sudah jadi takdir Allah kalau dalam hidup ini suka dan duka datang silih berganti. Sesekali kita dapat suka, tapi sesekali dapat duka. Ini tidak orang kaya tidak orang miskin, semuanya sama. Tapi yang dianggap buruk dan menyulitkan buat kita, boleh jadi di sisi Allah baik. Dan sebaliknya yang menurut kita baik boleh jadi sebenarnya berakibat buruk. Jadi kalau begitu lebih baik kita pasrah dan ridha saja sama takdir. Kita hanya usaha dan Allah yang Maha tahu sebaiknya kita ini dikasih apa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Kalau kita lagi tertimpa musibah, mungkin hakikatnya musibah itu lebih baik buat kita, karena musibah bisa mengurangi dosa, asal kita pasrah dan sabar menerimanya. Ada anekdot tentang seorang sahabat, namanya Abdullah bin Umar. Suatu ketika terbetik kabar bahwa Abdullah bin Umar kecurian harta-harta berharganya. (mencuplik kisah salah satu sahabat yang terkena musibah kemudian dia bersyukur karena dengan begitu para sahabat tadi menemukan banyak fungsi musibah: lantas beliau mengurai kan bahwa musibah itu: 1) segera mengingatkanku akan betapa berharganya harta yagn telah hilang itu. Karena nikmat itu akan begitu terasa sekali nikmatnya kalau pas begitu lenyap dari kita, begitu kita nggak bisa lagi merasakannya; 2) bisa mengurangi dosa selagi kita sabar; 3) bisa lebih mensyukuri nkmat yang masih ada, coba kalau hartaku semua hilang, wah bisa berabe?&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Coba, Ibu/Bapak, Adik, pernahkah pas dapat musibah kita senang-senang saja? Atau minimal kita merasa biasa saja, karena kita yakin sebagai hamba kita harus dapat ujian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Jadi, dengan mental ridha kepada takdir, musibah yang membuat kita sedih pun bisa segera kita atasi. Malah sisi baiknya akan segera kita syukuri, sehingga rasa syukur itu akan tetap terpelihara dalam hati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Kesimpulannya, agar hidup kita bebas merdeka, jiwa lapang terasa bahagia, kita harus punya kuncinya, kuncinya adalah punya rasa syukur terus. Gimana biar kita bisa syukur terus, caranya ada lima kunci: pertama.. kedua.. ketiga.. keempat.. dan terakhir yang kelima.. Dengan 5 kunci ini insya Allah kita akan punya rasa sukur terus, dan dengan rasa syukur hidup akan terasa nikmat bahagia. Jadi betapa indahnya rasa syukur ini.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span><span> </span>Membedah Materi Ceramah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Manakah bagian-bagian uraian dari ceramah itu yang merupakan pengatar, isi serta penutup? Berikut outline detailnya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:left;text-indent:-36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span><span>I.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Pengantar</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:left;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span><span>A.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Pernyataan awal tentang baru diadakannya peringatan HUT<span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>kemerdekaan RI, dan pertanyaan susulan tentang apa sih yang </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>dimaksud merdeka itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:left;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span><span>B.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Selain merdeka dari penjajahan fisik, merdeka dalam arti sebenarnya </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>adalah merdekanya jiwa dari segala sesuatu yang menghimpit dan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>menjajahnya: penjajahan setan, nafsu, gengsi materi, mode, dan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>sebagainya; hingga akhirnya jiwa bebas merdeka, lapang terasa<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>bahagia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:left;text-indent:-36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span><span>II.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Isi</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:left;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span><span>A.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Contoh-contoh orang yang masih terjajah!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:117pt;text-align:left;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span><span>1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Orang yang korban mode</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:117pt;text-align:left;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span><span>2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Orang terjajah harta</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:117pt;text-align:left;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span><span>3.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Orang terjajah obsesinya sendiri</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:left;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span><span>B.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Penegasan: Inilah sebenarnya model-model orang yang masih terjajah; </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>pikiran sumpek dan jiwa kering kerontang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:left;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span><span>C.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Kunci supaya jiwa bebas merdeka adalah rasa syukur. Ya, rasa syukur! Karena hati yang penuh syukur bisa membebaskan jiwa dari situasi apa pun, bisa mendatangkan rasa syukur penuh bahagia dalam keadaan apa pun, inilah indahnya rasa syukur!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:left;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span><span>D.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Kalau begitu kita harus menemukan kunci untuk terus bersyukur. Kuncinya ada 5:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:117pt;text-align:left;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span><span>1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Selalau ingat hidup ini milik Allah semata, hidup kita hanya titipan saja</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:117pt;text-align:left;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span><span>2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Jangan suka mengingat/membayangkan apa yang tidak ada, ingat saja nikmat yang sudah ada</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:117pt;text-align:left;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span><span>3.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Lihat ke bawah jangan lihat ke atas</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:117pt;text-align:left;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span><span>4.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Rajin sedekah ke orang-orang papa</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:117pt;text-align:left;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span><span>5.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Ridha kepada takdir</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:left;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span><span>E.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Penegasan: inilah 5 kunci syukur, yang dengannya kita bisa terus </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>syukur dan membuat jiwa kita bebas merdeka, lapang terasa bahagia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:left;text-indent:-36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span><span>III.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Penutup/Kesimpulan:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:left;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span><span>A.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Supaya jiwa kita bebas merdeka, tidak terpasung penjajahan apa pun, kita perlu terus bersyukur dalam keadaan apa pun. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:left;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span><span>B.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Untuk terus bersyukur ada 5 kunci, yaitu: …<span> </span>dengan ini insya Allah jiwa kita akan bebas merdeka, rasa bahagia terasa mengalir di dalam dada. Inilah indahnya rasa syukur.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span>Penggerak Alur Lancar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Kalau kita lihat susunan outline yang rapid an tertib ini, apa yang sebenarnya bisa membuatnya berceramah <em>secara memikat dan lancar? </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Selain karena tertib dan rapi tadi (masing-masing bagian punya posisinya masing-masing, dan setiap posisi yang sama berbaris sejajar seperti barisan tentara), sifat pengantarnyalah yang menggerakkan susunan materi itu jadi lancar. Apa pasal? <strong><em>Pertama</em></strong>, pengantar itu bertolak dari hal yang masih jadi perhatian atau suasana yang masih meliputi pendengar, sehingga langsung terasa akrab. <strong><em>Kedua</em></strong><em>, </em>membangkitkan perhatian dengan lontaran pentanyaan yang cukup menggelitik; perhatian terhadap pokok/topic pembicaraan. Dan <strong><em>ketiga</em></strong>, memberikan jawaban atas pertanyaan itu secara padat dan memikat; padat seolah mencakup semua pesoalan yang akan diuraikan, dan memikat karena menyajikan bebasnya jiwa hingga lapang bahagia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Ketiga sifat pengantar ini membuka &#8220;ruang psikologis&#8221; di dalam jiwa si pendengar, yakni ruang kesediaan untuk menyimak dengan penuh perhatian terhadap pokok pembicaraan yang akan di uraikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span><span> </span>Cara Membuka Ceramah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Karena pengantar adalah pelatuk untuk &#8220;derap&#8221; seluruh susunan materi, maka sebelum <em>menentukan jurus pengantar</em>, kita harus terlebih dulu menguasai seluruh materi yang akan diuraikan. Ini yang <em>pertama</em>. <em>Kedua</em>, kita harus cukup mengenal sifat pendengar dan situasi yang mereka hadapi, sehingga dari sini kita dapat mencari bahan yang akrab dan dekat dengan mereka</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Di sini kita akan memberikan contoh-contoh pengantar yang baik untuk menginspirasi kreativitas bagi penyusunan pengantar. Contoh-contoh ini diambil dari berbagai penceramah dan situasi yang berbeda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span></span><span dir="rtl">٭</span><span> Contoh pengantar Aa Gym di atas bisa dijadikan bahan renungan, bahan<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>pelajaran untuk mengasah kepekaan kreasi kita dalam membuat pengantar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span dir="rtl">٭ </span><span><span> </span></span><span>Salah seorang peserta Mimbar Dai di TPI, dihadapan pendengar Ibu-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>ibu/Bapak-bapak dan para remaja, memberi pengantar yang bagus. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Topiknya tentang <em>Pentingnya Senyum</em>. Sambil menuju panggung dia terus </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>menbear senyum. Setelah mengucapkan salam, puji syukur serta shalat </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>kepada Nabi Saw, sang dai kembali menebar senyum. &#8220;Bu,Pak, katanya </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>mengawali ceramahnya, &#8220;Senyum dong Bu. Jangan cemberut begitu!&#8221; para </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>hadirin masih terdiam saja. Ia lanjutkan: &#8220;Coba sekarang lihat, cakepan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>senyum saya atau kalian?&#8221; Para hadirin pun terutama yang remaja mulai </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>terbangkitkan perhatiannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span dir="rtl">٭ </span><span><span> </span>Pengalaman saya sendiri (Ust. Jefri) sewaktu diundang ceramah di </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>lingkungan Band Slank. Waktu itu saya ucapkan salam dan hamdalah, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>mereka seperti cuek bebek. Tampak belum ada kesediaan sama sekali untuk </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>mendengarkan. Mendadak saya ingat lagu Slank. Saya pun segera</span><span id="more-74"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>menyanyikan dan meminta mereka untuk nyanyi bareng. Setelah itu baru </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>perhatian ada. Inilah cara yang kemudian saya sebut sebagai prinsip <em>making </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span><span> </span>friend</span></em><span>. Yakni dengan selera dan situasi para pendengar, sehingga mereka </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span><span> </span><span> </span></span></em><span><span> </span>merasa akrab dan jadi teman kita, atau mereka merasa kita termasuk bagian </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span><span> </span>mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span dir="rtl">٭ </span><em><span><span> </span>Menghubungkan dengan hari-hari besar ketika berceramah</span></em><span>. Misalnya, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>ketika seorang penceramah diminta ceramah tentang puasa di hari awal-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>awal puasa, ia bisa mengatakan: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>&#8220;Alhamdulillah, kita semua bersuka cita dapat bertemu kembali dengan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>bulan suci Ramadhan. Bulan yang berarti peleburan atau pembakaran </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>karena dapat melebur seluruh dosa lalu kita. Nabi Saw bersabda: Barang </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>siapa yang bergembira dengan datangnya bulan suci Ramadhan, niscaya </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>dosa lalunya diampuni.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Sekarang, bagaimanakah agar bulan penuh ampunan ini, sebagaimana </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>disabdakan Nabi barusan, benar-benar bisa membakar seluruh dosa-dosa </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>kita? (misalnya judul/topic ceramah ini adalah: Ramadhan penuh Ampunan)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span dir="rtl">٭ </span><span><span> </span></span><em><span>Dengan cerita yang hidup, dramatis dan menyentuh, yang cocok dengan </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span><span> </span>Pokok/topic pembicaraan.</span></em><span> Misalnya, waktu saya ceramah tentang <em>Bahaya </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span><span> </span>Narkoba</span></em><span> di depan para remaja dan pemuda, saya antari dengan cerita </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span><span> </span></span></em><span>pengalaman saya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>&#8220;Bicara soal bahaya narkoba, kebetulan saya ditakdirkan Allah pernah </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>mengalaminya sendiri. Saya yang sudah merasakan bagaimana pahit </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>getirnya keluar dari jeratan setan ini!&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span dir="rtl">٭ </span><span><span> </span></span><em><span>Menghubungkan topic ceramah dengan tempat kita berceramah</span></em><span>, misalnya </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>gedung bersejarah, lapangan, mesjid tua, dan sebagainya. Misalnya, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Mohammad Nasir pernah mengawali pidato (ceramah) sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span><em>&#8220;</em>Saudara-saudara<em>&#8220;</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Saudara-saudara sekarang ini berkumpul dalam satu gedung yang </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>bersejarah. Sekiranya dinding-dinding dari gedung ini dapat berbicara, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>maka banyaklah kisah yang dapat kita dengarkan. Kisah yang tempo-tempo </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>menggemberikan hati dan kadang-kadang menyedihkan pula. Memang </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>demikianlah sunatullah dalam hidup duniawi dalam semua bidang </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>kehidupan. Kisah khair dan syar silih berganti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span></span><span dir="rtl">٭</span><span> </span><em><span>Menyodok keprihatinan/kepentingan pendengar yang berkaitan dengan </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span><span> </span>topic pembicaraan</span></em><span>. Misalnya dalam mengawali ceramah tentang pentingnya </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span><em>Hidup Beretika</em>, seorang penceramah berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span><span> </span>&#8220;</span></em><span>Saudara-saudaraku rahimakumullah<em> &#8220;</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span><span> </span></span></em><span>Sudah jadi rahasia umum bahwa krisis bangsa yang sudah lama kita derita </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>ini berawal dari krisis moral, terutama karena merajalelanya praktik-praktik </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>KKN. Keadaan ini akan terus memburuk bila kita tidak mencegahnya, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span><span> </span>bahkan akan mengancam anak cucu kita sendiri. Mereka yang sudah repot-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>repot kita sekolahkan, kelak seperti akan mendapat dosa warisan: mereka </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>akan makin sulit mendapat pekerjaan dan terancam pengangguran karena </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>kesempatan kerja hanya terbatas buat mereka yang mau dan bisa KKN saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span dir="rtl">٭<em> </em></span><em><span><span> </span>Memulai dengan pernyataan yang membersitkan bahwa apa yang akan </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span><span> </span>disampaikan benar-benar merupakan pemahaman baru, segar dan orisinil. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Seorang penceramah ketika mengawali ceramahnya tentang <em>Haji sebagai </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span><span> </span>Puncak Rukun Islam</span></em><span>, mengatakan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span><span> </span></span></em><span>&#8220;Sebagai tahadduts binni&#8217;mah, saya katakana tak kurang dari 15 tahun </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>saya belajar agama. Namun baru kali ini saya menyadari bahwa rukun Islam </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>itu ternyata bukan sekedar berurutan, tapi juga berperingkat di mana haji </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>merupakan puncaknya. Ibarat tangga, haji adalah puncak yang membawahi </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>anak-anak tangga rukun islam lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span></span><span dir="rtl">٭</span><span> </span><em><span>Dengan menyentuh keprihatinan psikologis pendengar.</span></em><span> Dalam khutbahnya </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>tentang <em>Meraih Kembali Harga Diri </em>di Amerika, Ust. Dr. Jalaluddin </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Rahmat mengawalinya dengan: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Adalah pedih menyadari bahwa kita, kaum Muslimin, dewasa ini </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>bukanlah penguasa-penguasa bumi sebagaimana seharusnya. Kita akan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>merasa malu bila kita tahu bahwa ummah ini, yang mengklaim sebagai </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>ummah terbaik, hanyalah sebuah mainan kecil yang berada di tangan para </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>kafir dan musyrik. Untuk meredakan perasaan ini, biasanya kita berpaling </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>ke masa lalu yang gemilang, ketika kaum Muslimin menaklukkan lebih dari </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>separuh dunia, ketika suara muazin merupakan nada musical terbaik<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>dunia…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span dir="rtl">٭<em> </em></span><em><span><span> </span>Dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk intropeksi</span></em><span>. Dalam </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>khutbahnya tentang Tanda-Tanda Orang yang Shalatnya Diterima Allah </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Swt, Ust. Jalaluddin Rahmat mengawalinya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Sidang Jumat yang Mulia</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Sudah sering kita dengar bahwa shalat adalah tiang agama, bahwa shalat </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>adalah amal yang paling dahulu diperiksa di hari kiamat. &#8220;Bila shalatnya </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>baik, baiklah seluruh amalnya; bila shalatnya rusak, rusak jugalah seluruh </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>amalnya.&#8221; Begitu sabda Rasulullah Saw. Sesekali mungkin kita </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>merenung:&#8221;Baikkahshalat yang kita lakukan?&#8221; Sewaktu-waktu mungkin kita </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>bertanya, &#8220;Apakah shalat kita diterima Allah Swt?&#8221; Bukankah Allah </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>berfirman &#8220;Celakalah orang-orang shalat?&#8221; Bukankah Nabi Saw pernah </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>bersabda bahwa ada orang yang shalat dan shalatnya dilipat Allah, seperti </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>pakaian pada hari kiamat dan dilemparkan ke wajahnya; Allah tidak </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>menerima shalatnya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span></span><span dir="rtl">٭</span><span> </span><em><span>Dengan penyataan yang mengharukan.</span></em><span> Misalnya pernyataan yang </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>menyentuh hati kecil pendengar, betapa kita sebagai manusia sangat kecil di </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>hadapan kebesaran Allah. Dalam sebuah khutbah Idul Fitri berjudul </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span><em>Berbahagialah orang yang menyucikan dirinya</em>, Ust. Jalal mengawalinya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Hari ini kita berkumpul kembali, duduk di atas tanah yang dingin, di </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>lapangan terbuka, dinaungi langit yang membentang tak terhingga. Baru </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>saja di tempat ini kita bersama-sama menggemakan pujian kebesaran </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>kepada Allah Swt sehingga langit di sekitar kita gemuruh dengan suara </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>takbir. Setelah itu, kita serentak sujud, meratakan dahi di atas tanah seraya </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>mengucapkan pengakuan kita akan kebesaran Allah: &#8220;Subhana rabbiyal a&#8217;la </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>wa bihamdih.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span dir="rtl">٭<em> </em></span><em><span><span> </span>Dengan pantun atau cerita lucu. </span></em><span>Ini cara yang paling sulit, apalagi bila para </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>hadirin sudah ngantuk. Namun ia sekaligus cara paling efektif untuk </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>mengusir rasa ngantuk mereka. Ketika malam sudah larut, tibalah giliran </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>penceramah terakhir. Para hadirin sudah ngantuk berat. Acaranya dalam </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. Sang penceramah </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>dengan lantangnya mengatakan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>Saya hanya akan ceramah sebentar saja, karena kita sudah lelah dan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>ngantuk… (kira-kira setelah itu dia memberondong pantun dan cerita-cerita </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>lucu berkaitan dengan kebiasaan/kehidupan pendengar sendiri, hingga </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span><span> </span>akhirnya pendengar dibuatnya tertawa riang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Kesimpulannya, dalam berkreasi menyusun pengantar ceramah, tidak ada cara yang bisa langsung dijiplak. Kita hanya bisa belajar dari model-model ceramah yang sudah ada, memilah mana yang terbaik dan dari situlah lalu kita kembangkan sendiri sesuai dengan kebutuhan kita. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span>Tahap Penyampaian Ceramah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Tahap penyampaian merupakan unsure terpenting dalam ceramah, karena khalayak hanya dapat menilai sewaktu kita berceramah saja (jadi tidak melihat bagaimana kita memproses ceramah tersebut). Seorang<strong> </strong>orator ulung ketika ditanya apa unsur terpenting dari ceramah, dia menjawab: Penyampaian. Ketika di Tanya kedua dan ketiga kalinya, dia tetap menjawab penyampaian. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Kalaupun tahap penyampaian ini paling menentukan, dan biasanya sangat mendebarkan terutama bagi pemula, tapi tahap ini sebenarnya hanya tahap lanjut dari tahap-tahap sebelumnya. Yakni satu tahap akhir yang bila seseorang sudah cukup terlatih, sebenarnya jauh lebih mudah dari tahap sebelumnya. Dalam tahap ini sebenarnya kita tinggal meng <strong><em>acting</em></strong> kan apa yang sudah jelas dalam benak. Jadi repot yang sebenarnya lebih pada proses penyusunan, sedangkan pada tahap penyampaian sebenarnya sudah tinggal &#8220;mudahnya&#8221; saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Jadi inti penyampaian adalah <strong><em>Acting</em></strong>. Yang di maksud acting disini adalah mengutarakan apa yang sudah jelas di benak dengan mengerahkan seluruh kekuatan ekspresi, mulai dari dalam jiwa, lalu ekpresi suara, mimic muka, gerak tubuh, kontak mata, dan seterusnya, persis seperti ketika kita main teater.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Untuk mengahasilkan acting penyampaian yang maksimal. Kita perlu memenuhi tiga rukun. Yaitu: 1) <strong>Kontak mata</strong> dengan para hadirin; 2) <strong>Olah vocal</strong>; 3)<strong> Olah tubuh/bahasa tubuh, </strong>yakni berbicara dengan seluruh kepribadian kita: mimic muka, tangan, tubuh, dan seterusnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span>Cara Kontak Mata</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Teknik pertama menjalin hubungan adalah dengan melihat langsung kepada khalayak. Anda tidak mungkin melihat mereka satu per satu. Tetapi, sapukan pandangan anda ke semua hadirin. Pada titik-titik tertentu adna melihat orang-orang yang anda pilih sebagai waik dari salah satu bagian hadirin. Bila ini pun sukar, paling tidak pandanglah hadirin secara keseluruhan dengan perhatian terbagi. Lakukan seperti sopir yang memandang semua hal yang berada didepannya. Tidak terpusat, tetapi terlihat semua. Ini berarti selama ceramah mata kita harus terus tertuju memperhatikan mereka. Jadi selama cerama jangan terlalu sering melihat catatan atau mata kita memandang jauh keluar ruangan atau ke atas bangunan atau kemana saja karena serta merta hadirin pun tidak akan memperhatikan kita. Dengan kontak mata pun kita sebenarnya bermaksud untuk membaca respon mereka terhadap ceramah kita, baik respon kata-kata maupun yang bukan kata-kata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span>Cara Olah Suara</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Pengaruh suara begitu kuat sehingga tanpa kata pun, ia sudah mengandung makna. Untuk menghasilkan suara yang maksimal, biasanya olah suara melatih 3 aspek suara sekaligus, yaitu: nada, kecepatan bicara (rate), dan hentian/jeda. Ketika kita ceramah/bicara, ketiga aspek ini harus kompak kita terapkan sekaligus. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Mari kita kupas lebih detail pembahasan di atas: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span>Nada</span></span></strong><strong><span>. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Dalam bagian pengantar, sebaiknya nada suara kita sedang (atau agak rendah sedikit). Ibarat dalam awal lagu, dalam lagu biasanya kita disuguhi &#8220;sentuhan&#8221; suara-suara halus yang memesona, yang membuat kita terpancing asyik ingin mendengarkan terus bagian selanjutnya. Nada dibagian pengantar ini akan kita jadikan patokan/acuan untuk turun naik nada-nada pada bagian-bagian berikutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Hal yang paling tabu dalam pengaturan nada adalah jangan sampai nada-nada berikutnya turun melorot atau melonjak drastis melebihi &#8220;tangga&#8221; nada awal. Bila ini dilanggar, nada ceramah kita akan terasa jomplang, turun naik tidak karuan dan akhirnya tidak mendapat tempat/srek di jiwa pendengar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Menginjak ke bagian isi, nada suara sudah mulai menanjak. Dan pada bagian akhir (kesimpulan) nada suara sedang lagi. Secara detailnya adalah nada tinggi digunakan untuk menekankan bagian-bagian penting yang kita tegaskan. Sedang nada datar dan rendah biasanya untuk hal/materi yang dibahas sepintas lalu karena pendengar dianggap sudah tahu atau tidak perlu tahu detail. Misalnya dalam bagian pengantar, hal yang penting adalah ketika menyuguhkan topic/pokok pembicaraan. Topic ini benar-benar harus kita tancapkan dalam hati pendengar agar mereka tertarik dan dapat mengikuti pembicaraan lanjut. Karena itu pada saat bagian ini nada kita harus lumayan tinggi. Tentu nada tingginya tidak boleh melanggar <em>kaidah umum</em> nada pada bagian pengantar, yakni tidak tinggi menyamai bahkan melebihi nada-nada tinggi pada bagian-bagian penting entah pada bagian isi; karena bagaimanapun bagian isi jauh lebih penting. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span>Rate</span></span></strong><span style="text-decoration:underline;"><span>/<strong>Kecepatan bicara.</strong></span></span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Bicara terlalu cepat bisa mengakibatkan pendengar tidak bisa mengikuti jalannya pembicaraan. Terlalu lamban pun akan mengakibatkan pembicaraan terasa lamban dan terlalu bertele-tele. Kedua dampak ini sangat berbahaya karena membuat pendengar tidak bisa mengikuti isi ceramah dan tidak akan tertarik lagi mengikuti ceramah kita. Aturan kecepatan bicara secara umum sebagai berikut. Bila kita sedang membicarakan hal-hal yang sulit, sedangkan pendengar harus mengerti maka sebaiknya kita melambankan pembicaraan. Ini untuk memberi kesempatan mereka untuk berpikir,menangkap dan mencerna apa yang kita katakan. Bila kita bicara dalam ruangan yang sangat besar, yang sedikit menimbulkan resonansi/gema suara, kita pun sebaiknya bicara agak lamban. Ini agar resonansi tidak mengganggu penangkapan terhadap suara kita. Selanjutnya, bila kita ingin menekankan hal-hal penting, kita juga perlu agak memperlambat. Jadi selain dengan meninggikan nada, untuk <em>penekanan</em> diperlukan perlambanan bicara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span>Hentian/Jeda</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Hentian ini sangat penting artinya untuk memberi <em>nafas</em>, atau kesempatan untuk berpikir pada otak. Hentian atau jeda sebentar (dalam tulisan biasanya ini sama dengan fungsi koma:berhenti lebih sebentar daripada titik) bisa digunakan untuk menggenapkan penekanan kita pada hal-hal penting. Bagian-bagian penting itu akan terasa sangat ditekankan bila memakai jeda ini, di samping dengan nada tinggi dan pelambanan bicara. <em>Hal yang paling tabu dalam hentian, </em>jangan sampai setiap hentian ini kita sering mengatakan, &#8220;<strong><em>iya&#8221;, &#8220;apa namanya&#8221;, &#8220;anu&#8221;, &#8220;eh&#8221;.</em></strong> Bunyi-bunyi tanpa arti ini akan mengesankan kita kurang siap dan tidak lancar bicara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span>Tepat sebelum anda menyampaikan suatu poin penting, berhentilah berbicara selama 3 hingga 5<span> </span>detik. Pada saat tersebut, jangan bergerak, pertahankan kontak mata, dan bersikaplah seakan-akan anda sedang mempertimbangkan ucapan anda selanjutnya. Ucapkan pemikiran anda dengan kepastian, keyakinan, dan kegairahan. Seringkali, karena kegairahan terhadap materi presentasi, pembicara berbicara dengan cepa,t bergerak dari satu poin ke poin lain, dan ini perlu diwaspadai.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Satu aspek lagi yang perlu diperhatikan untuk menyempurnakan olah suara adalah <strong>durasi. </strong>Durasi menunjukkan lamanya waktu yang diperlukan untuk mengucapkan satu suku kata. Untuk lebih gampangnya kita berikan contoh. Seorang penceramah, misalnya, memasuki bagian kesimpulannya berkata: &#8220;hal yang <strong>p<span style="text-decoration:underline;">a</span>l</strong>ing penting kita jaga dalam hidup ini adalah<strong>:</strong> rasa takwa&#8221;. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Mohon beri <strong>jeda </strong>pada tanda koma, lalu beri tekanan nada tinggi pada suku kata pertama: <strong>p<span style="text-decoration:underline;">a</span>l</strong>ing, beri <em>&#8220;mad&#8221; </em>(dibaca panjang) pada huruf <strong><span style="text-decoration:underline;">a </span></strong>dari kata <strong>p<span style="text-decoration:underline;">a</span>l</strong>ing tadi. Beri jeda yang lebih panjang pada tanda <strong>:</strong>, insya Allah anda bisa membedakan pengaruhnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span>Satu satu hal pertama yang akan di amati oleh pendengar adalah postur tubuh anda. Mengapa? Indra terkuat adalah mata. Rute saraf dari mata ke otak 25 kali lebih besar dibandingkan rute saraf dari telinga ke otak. Pendengar dapat mengetahui apa yang anda rasa dan pikirkan semata-mata dari gerakan dan cara anda berdiri. <strong>Lakukan hal ini</strong>: Sebelum anda memulai presentasi, bahkan saat anda mendekati bagian depan ruangan, tampakkan sikap percaya diri, antusiasme, dan kesungguhan sepenuhnya. Tariklah nafas panjang. Keluarkan segenap pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang menjadi dasar kepercayaan diri anda. Tersenyumlah dan biarkan tubuh anda mengeskpresikan kondisi batiniah anda yang demikian. Keharmonisan antara kondisi batiniah dan fisiologi lahiriah anda sangat berpengaruh (untuk tampil percaya diri). Pendengar menangkap ketakutan dan kegelisahan kecil yang remeh dengan jalan mengamati sikap tubuh anda. Sebaliknya, mereka dapat mendeteksi kepercayaan diri, keyakinan, dan kredibilitas semata-mata dari cara anda berdiri dan bergerak. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span>Bahasa Tubuh</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Kontak mata dan olah suara akan maksimal bila digabung dengan bahasa tubuh. Seperti pada waktu acting di teater ataupun film, gerak sangatlah menentukan ketika menyampaikan ceramah. Tanpa isyarat tubuh, maka penceramah akan terkesan seperti patung; diam tanpa ekspersi. Bila kita bicara semangat sampai meledak-ledak, namun kedua tangan kita hanya diam tanpa gerak tinju ke atas, apa yang terjadi? Tentu semangat ucapan itu akan jadi pincang. Selain memperkuat makna, gerak juga bisa menarik dan memelihara perhatian. Gerak memang merupakan pemicu perhatian, Karena secara alami perhatian manusia cenderung ke hal-hal yang bergerak. Misalnya ketika kita sedang jalan ke mall, mata kita seperti tertarik untuk melihat huruf/gambar iklan yang bergerak. Biasanya kita sangat grogi menjelang beberapa saat mau ceramah. Tapi begitu ceramah, beberapa menit kemudian grogi lambat laun sirna. Nah salah satu yang menghilangkan itu adalah gerak kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span>Isyarat tubuh ini bisa macam-macam. Misalnya <em>pertama, </em>gerak seluruh tubuh. Yakni gerak dengan pindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain secara harmonis, dalam artian harus seiring dan seirama dengan gaya penyampaian dan isi pembicaraan. Ini biasa digunakan pada ceramah di panggung yang tidak memakai mimbar. <em>Kedua,</em> gerak dengan sebagian anggota tubuh, misalnya dengan gerakan tangan ke depan, kaki, bahu dan sebagainya. <em>Ketiga,</em></span>ekspresi wajah. Secara umum, gerak tubuh berfungsi untuk:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:left;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">memperkuat makna ucapan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:left;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">menarik dan mempertahankan perhatian </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:left;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span>3.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">menumbuhkan kepercayaan diri dan semangat penceramah sendiri</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span>Setelah mengenal metode ini semua hal yang jauh lebih penting adalah langsung mempraktikannya. Cara yang paling efektif untuk mempraktekkannya di depan cermin. Setelah maksimal latihan sendiri di depan cermin, kemudian kita meminta penilaian dan nasihat dari teman atau orang terdekat. <em>Rajin-rajinlah mengamati gerak tubuh para penceramah</em>, lalu coba kita tirukan di depan cermin. Untuk mengasah ketrampilan kita dalam olah tubuh.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span><strong>Teknik-Teknik Humor</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span>Apa yang menjadi sebab orang tertawa?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em>Pertama, </em><strong>keganjilan</strong>, atau tepatnya hal di luar standar anggapan normal kita. Termasuk bersifat kekurangan/cacat. Misalnya, sosok orang cebol, orang budeg, oran gyang bibir dan giginya sangat <em>monyong</em>, tubuh yang pendek dan bongsor/gemuk dan seterusnya. Kita mungkin boleh bertanya, kenapa keganjilan bisa menimbulkan kelucuan? Salah satunya karena keganjilan menimbulkan rasa superioritas kita atas objek yang di anggap ganjil tadi. Kita secara alamiah suka tertawa ketika melihat cara jalan, mohon maaf, orang cebol, karena kita merasa <em>lebih</em>dari orang tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr">Sebab <em>kedua,</em> <strong>Kejutan mendadak.</strong> Orang akan tertawa bila secara mendadak menemukan kejutan tiba-tiba. Teknik untuk memberi kejutan mendadak adalah &#8220;belokan mendadak&#8221; (<em>unexpected turn)</em>. Kebanyakan humor sebenarnya memakai teknik ini, misalnya: <em>Beberapa orang sipir penjara mendapat kesempatan bermain kartu dengan seorang napi. Ternyata napi itu mengecoh mereka. Lantas mereka marah dan <span style="text-decoration:underline;">menendang napi itu keluar penjara</span>!</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span>Teknik humor:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span> </span>Eksegrasi</strong><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span>Melebih-lebihkan akan menimbulkan rasa lucu, bila tindak melebih-lebihkan itu bisa diterima (tidak menghina). Apa respon anda bila melihat seorang pelawak yang sangat monyong bibirnya, lalu memonyong-monyongkan lagi bibirnya? Biasanya ada kelucuan di situ.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span><strong>Parodi</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span>Yaitu bentuk peniruan secara <em>ganjil</em> terhadap karya orang lain dengan maksud melucu. Karyanya bisa lagu, puisi, gaya pidato dan sebagainya. Syaratnya karya yang ditiru itu sudah sangat terkenal di kalangan ramai. Ada dua unsur yang menonjol dari parodi yang menyebabkan lucu. <em>Pertama</em> adalah peniruan yang sedemikian persis. <em>Kedua,</em> ada unsure &#8220;pengejekan&#8221;, ada unsur &#8220;sikap kurang ajar&#8221; dan &#8220;meledek&#8221; terhadap tokoh yang dulu kita sanjung-sanjung dan hormati. <span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span>Istilah-istilah resmi lainnya bisa diparodikan. Misalnya <em>Telorisme, bergincu dalam melodi, Dunia dalam derita, Konfrensi Nona Blok A, dan sebagainya. </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em> </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span> </span></em><strong>Anekdot</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span>Yaitu kisah menarik dan lucu yang berkaitan dengan para tokoh besar yang sudah akrab dan mendapat tempat dalam hati kita. Sifat dan watak pribadinya bahkan sudah masyhur di kenal. Mereka bisa tokoh para sufi, filosof, fuqaha, para nabi, sahabat, penyanyi dan sebagainya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span><strong>Puns</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span>Puns sebenarnya tidak jauh beda dengan teknik belokan mendadak. Keduanya sama-sama memberi kejutan. Hanya beda cara. Belokan mendadak &#8220;mengecoh&#8221; pendengar dengan menggunakan belokan scenario/alur cerita. Sedang puns mengecoh dengan menggunakan permainan kata. Contoh: saya menolak dia karena pertimbangan <strong>kepribadian</strong>. Dia ga punya kendaraan pribadi, sopir pribadi, perusahaan pribadi dan rumah pribadi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span><strong>Pantun</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span> </span></strong>Pantun juga memberi kejutan, yakni dengan permainan susunan kata khas pantun. Karena mengandalkan kejutan, pantun biasanya terasa lebih segar dan lucu bila tampak dibuat spontan pas pada waktu acara tertentu. Misalnya dari pantun Ginanjar sewaktu jadi juri Dai Cilik. Ada perserta bernama Imron, ceramahnya cukup memukau. Maka Ginanjar dengan spontan mengubah: <em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span>Banyak laron dimakan toke</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span>Ceramah Imron memang oke</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span>&#8220;Jika anda tidak berusaha melakukan sesuatu melampaui apa</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span>Yang telah anda kuasai, maka anda tidak akan pernah tumbuh.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span><em>Ralph Waldo Emerson</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span>Cairo, Wednesday 9 January 2008. 11:53 pm.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maydi.wordpress.com/74/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maydi.wordpress.com/74/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maydi.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maydi.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maydi.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maydi.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maydi.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maydi.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maydi.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maydi.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maydi.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maydi.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maydi.wordpress.com&blog=390349&post=74&subd=maydi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maydi.wordpress.com/2008/01/09/kiat-jadi-dai-muda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a361ae76f536ccf3675954b781a4d28c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Anang Banjar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gawian Ikut Suami</title>
		<link>http://maydi.wordpress.com/2006/12/28/57/</link>
		<comments>http://maydi.wordpress.com/2006/12/28/57/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Dec 2006 21:09:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anang Banjar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Palui]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maydi.wordpress.com/2006/12/28/57/</guid>
		<description><![CDATA[                PALUI tapilih                 pulang manjadi katua RT. Padahal inya sudah dua kali manjabat, tapi karna urang banyak        [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maydi.wordpress.com&blog=390349&post=57&subd=maydi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><font face="Arial" size="2">                </font></strong><strong><font face="Arial" size="2"><img src="http://www.indomedia.com/bpost/122006/28/palui/palui.jpg" alt="Gawian Ikut Suami" align="right" border="0" height="241" width="200" />PALUI </font></strong><font face="Arial" size="2">tapilih                 pulang manjadi katua RT. Padahal inya sudah dua kali manjabat, tapi karna urang banyak                 nang katuju tautama bubuhan pamudanya, jadi tapakai pulang. Palui urangnya pangawal wan                 jua saraba rasuk wan urang kampung, baik nang tuha atau pun nang anum. </font></p>
<p><font face="Arial" size="2">                </font><font face="Arial" size="2">&#8220;Bujurkah Lui bila handak jadi pajabat harus baisian bini,&#8221; ujar Garbus                 batakun.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2">                </font><font face="Arial" size="2">&#8220;Hi-ih bujur Bus ai, pajabat harus baisi pandamping gunanya supaya jangan makan                 nasi bungkus,&#8221; ujar Palui lihum.</font><span id="more-57"></span></p>
<p><font face="Arial" size="2">                </font><font face="Arial" size="2">&#8220;Napa hubungannya antara babini wan nasi bungkus Lui, aku kada paham,&#8221; sahut                 Garbus.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2">                </font><font face="Arial" size="2">&#8220;Kalu baisian bini artinya kada layau ka hulu ka hilir karna sudah ada wadahnya.                 Tapi bila kada baisian bini maka tapaksa makan nasi bungkus, artinya imbah dimakan maka                 daunnya kada dipakai lagi lalu dibuang,&#8221; ujar Palui.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2">                </font><font face="Arial" size="2">&#8220;Ooo&#8230; kalu kaya itu aku akur Lui ai bahwa pajabat itu harus babini,&#8221; ujar                 Garbus paham napa maksud Palui.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2">                </font><font face="Arial" size="2">&#8220;Makanya, mulai tadi kusambat bahwa pajabat itu parlu pandamping. Dan, pandamping                 itu adalah bini,&#8221; ujar Palui.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2">                </font><font face="Arial" size="2">&#8220;Ooo&#8230; pantas haja imbah dilantik jadi katua RT dahulu, bini Palui kada mau                 tapisah wan lakinya. Ibarat paribahasa di mana ada gula di situ ada samut, di mana ada                 Palui, pasti di situ ada bininya,&#8221; ujar Tulamak.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2">                </font><font face="Arial" size="2">&#8220;Karna salalu didampingi bininya itulah maka Palui jadi alim banar kaya siput                 dipais,&#8221; ujar Garbus.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2">                </font><font face="Arial" size="2">&#8220;Aku kada cuma mandampingi lakiku karna inya jadi katua RT,&#8221; ujar bini Palui                 nang hanyar datang umpat manyahut karna kada tahan disindir Garbus.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2">                </font><font face="Arial" size="2">&#8220;Kalu kada karna kaharusan mandampingi laki sebagai katua RT lalu karna                 napaaa?&#8221; ujar Tulamak manggasak.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2">                </font><font face="Arial" size="2">&#8220;Aku harus mairingi lakiku kamana pun inya tulak karna dalam KTP kartu tanda                 panduduk-ku tatulis bahwa pakarjaanku adalah ikut suami, makanya ka mana-mana lakiku tulak                 harus kuumpati,&#8221; ujar bini Palui kada hakun kalah.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2">                </font><font face="Arial" size="2">&#8220;Kami paham, kami paham bini Palui ai. Supaya ikam di higa Palui kalihatan pina                 bapangaruh sebagai bini pajabat maka jangan kada ingat mamasang kacamata hirangnya dan                 lihum sadikit, jangan marangut,&#8221; ujar Garbus mahuhulut. </font><font color="#0000ff" face="Arial" size="2">(Copyright © B.Post)</font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maydi.wordpress.com/57/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maydi.wordpress.com/57/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maydi.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maydi.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maydi.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maydi.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maydi.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maydi.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maydi.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maydi.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maydi.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maydi.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maydi.wordpress.com&blog=390349&post=57&subd=maydi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maydi.wordpress.com/2006/12/28/57/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a361ae76f536ccf3675954b781a4d28c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Anang Banjar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.indomedia.com/bpost/122006/28/palui/palui.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Gawian Ikut Suami</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Doa Untuk Sekeranjang Tempe</title>
		<link>http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/doa-untuk-sekeranjang-tempe/</link>
		<comments>http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/doa-untuk-sekeranjang-tempe/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 08:56:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anang Banjar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resonansi & Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/doa-untuk-sekeranjang-tempe/</guid>
		<description><![CDATA[Di Karangayu,  sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe. Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. &#8220;Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya&#8230;&#8221; demikian dia selalu memaknai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maydi.wordpress.com&blog=390349&post=56&subd=maydi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Di Karangayu,  sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe. Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. &#8220;Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya&#8230;&#8221; demikian dia selalu memaknai hidupnya.</p>
<p>Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe, dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh. Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian. Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang, yang akan dia olah kembali menjadi tempe.</p>
<p>Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. &#8220;Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku&#8230;&#8221; Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya.</p>
<p>Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan&#8230; dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacangnya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang &#8220;memproses&#8221; doanya. <span id="more-56"></span>Dan tempe itu pasti akan jadi. Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. &#8220;Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau maha tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku&#8230;&#8221;</p>
<p>Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan&#8230; belum jadi. Kacang itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang tersebut. &#8220;Keajaiban Tuhan akan datang&#8230; pasti,&#8221; yakinnya.</p>
<p>Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, &#8220;tangan&#8221; Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa&#8230; berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.</p>
<p>Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. &#8220;Pasti sekarang telah jadi tempe!&#8221; batinnya. Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan&#8230; dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.</p>
<p>Kecewa, aitmata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk. Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar&#8230; merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya. Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan&#8230; esok dia pun tak akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan &#8220;teman-temannya&#8221; sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat&#8230;</p>
<p>Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya. &#8220;Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya??&#8221;</p>
<p>Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. &#8220;Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe&#8230;&#8221; Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. &#8220;jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?&#8221; tanya perempuan itu lagi.</p>
<p>Kepanikan melandanya lagi. &#8220;Duh Gusti&#8230; bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?&#8221; ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi! &#8220;Alhamdulillah!&#8221; pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli.</p>
<p>Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. &#8220;Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Sulhanuddin, yang kuliah S2 di Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Ohh ya, jadi semuanya berapa, Bu?&#8221;</p>
<p>Pembaca, ini kisah yang biasa bukan? Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan &#8220;memaksakan&#8221; Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa. padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah sempurna.</p>
<p><font color="#0000ff" face="Arial" size="2">(Copyright © Suara Merdeka )</font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maydi.wordpress.com/56/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maydi.wordpress.com/56/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maydi.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maydi.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maydi.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maydi.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maydi.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maydi.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maydi.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maydi.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maydi.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maydi.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maydi.wordpress.com&blog=390349&post=56&subd=maydi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/doa-untuk-sekeranjang-tempe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a361ae76f536ccf3675954b781a4d28c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Anang Banjar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cik Tina dan Anaknya</title>
		<link>http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/cik-tina-dan-anaknya/</link>
		<comments>http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/cik-tina-dan-anaknya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 04:08:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anang Banjar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Just For Laugh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/cik-tina-dan-anaknya/</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu pagi, Cik Tina ingin menghantar anaknya, Farid ke sekolah dengan menggunaka kereta barunya. Semasa hendak mengundurkan keretanya itu Cik Tina pun berpesan kepada anaknya :
Cik Tina : Farid, tolong tengok-tengokkan belakang kereta. Kalau langgar pokok beritahu ibu.
Farid: Baiklah , ibu!
Cik Tina: Kena tak ? Kena tak?

Farid: Belum, belum. Undurlah lagi ibu.
Cik Tina: Kena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maydi.wordpress.com&blog=390349&post=55&subd=maydi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pada suatu pagi, Cik Tina ingin menghantar anaknya, Farid ke sekolah dengan menggunaka kereta barunya. Semasa hendak mengundurkan keretanya itu Cik Tina pun berpesan kepada anaknya :</p>
<p>Cik Tina : Farid, tolong tengok-tengokkan belakang kereta. Kalau langgar pokok beritahu ibu.</p>
<p>Farid: Baiklah , ibu!</p>
<p>Cik Tina: Kena tak ? Kena tak?<br />
<span id="more-55"></span><br />
Farid: Belum, belum. Undurlah lagi ibu.</p>
<p>Cik Tina: Kena tak ? Kena tak?</p>
<p>Farid: Undur lagi, lagi, lagi .</p>
<p>Tiba-tiba terdengar bunyi yang kuat , bang !!</p>
<p>Farid: Okay ibu, dah kena pun pokok !</p>
<p>Cik Tina: Alamak ! Macam mana boleh terlanggar pokok? Habis kereta aku !</p>
<p>Farid: Kata ibu bila kena pokok beritahu, dah kena pokoklah itu !</p>
<p><font color="#0000ff" face="Arial" size="2">(Copyright © Ketawa)</font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maydi.wordpress.com/55/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maydi.wordpress.com/55/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maydi.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maydi.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maydi.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maydi.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maydi.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maydi.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maydi.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maydi.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maydi.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maydi.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maydi.wordpress.com&blog=390349&post=55&subd=maydi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/cik-tina-dan-anaknya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a361ae76f536ccf3675954b781a4d28c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Anang Banjar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Isteriku Liza&#8230;</title>
		<link>http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/isteriku-liza/</link>
		<comments>http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/isteriku-liza/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 03:57:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anang Banjar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Just For Laugh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/isteriku-liza/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Abang ni, pakai tu elok-elok la sikit,&#8221; kata Liza lembut sambil membetulkan pakaian Usin. Usin tersenyum memandang isterinya.&#8221;Cantik isteri abang hari ni,&#8221; Usin mencubit pipi Liza lembut. &#8220;Ayah, ayah, cepat la yah,&#8221; Farah dan Adi meluru masuk ke bilik kerana dah tak sabar-sabar nak bertolak pulang ke kampung. &#8220;Yelah, yelah, ayah dah siap ni&#8221;. Liza [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maydi.wordpress.com&blog=390349&post=54&subd=maydi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>&#8220;Abang ni, pakai tu elok-elok la sikit,&#8221; kata Liza lembut sambil membetulkan pakaian Usin. Usin tersenyum memandang isterinya.&#8221;Cantik isteri abang hari ni,&#8221; Usin mencubit pipi Liza lembut. &#8220;Ayah, ayah, cepat la yah,&#8221; Farah dan Adi meluru masuk ke bilik kerana dah tak sabar-sabar nak bertolak pulang ke kampung. &#8220;Yelah, yelah, ayah dah siap ni&#8221;. Liza hanya tersenyum melihat suaminya itu melayan kerana anak-anak mereka yang comel dan manja. &#8220;Abang, dah lama kita tak balik kampung macam ni, ye?&#8221; &#8220;Iyelah, maklumla abang ni sibuk dengan urusan perniagaan. Baru kali ni abang ada peluang untuk cuti panjang.&#8221; Usin berkata kepada isterinya tercinta.<span id="more-54"></span></p>
<p>Perjalanan daripada KL ke Tangkak mengambil masa lebih kurang empat jam. Farah dan Adi dah pun terlelap kat kerusi belakang. Begitu juga dengan isterinya, Liza. &#8220;Tak sabar rasanya nak tiba kat kampung,&#8221; Usin berkata dalam hati.</p>
<p>Sedikit demi sedikit Usin menekan minyak keretanya. Semakin lama keretanya semakin laju dan Usin semakin seronok. Usin dah tak sabar untuk segera sampai ke kampungnya. Pedal minyak ditekannya lagi dan Honda Civicnya mula memecut.Usin cilok kiri, cilok kanan. Habis semua kenderaan dipotongnya. Bangga betul Usin masa tu. Terlupa dia sekejap pada anak dan isterinya yang sedang tidur.</p>
<p>&#8220;Eh abang, kenapa bawa laju sangat ni?&#8221; tiba-tiba Liza terjaga dari tidurnya.&#8221;Tak ada apa la sayang, rileks&#8230;cepat sikit kita sampai kampung nanti.&#8221; &#8220;Sabar bang, sabar. Biar lambat tak apa&#8230;.jangan laju sangat bang,20 Liza takut.&#8221; Liza cuba memujuk Usin supaya memperlahankan kenderaannya. &#8220;Rileks Liza?tak ada apa-apa,&#8221; Usin terus memotong bas ekspres di depannya tanpa was-was.</p>
<p>&#8220;Haaa..kan, tengok. Tak ada apa-apa kan?&#8221; kata Usin setelah berjaya memotong bas ekspres tadi. &#8220;Sudah la tu bang.&#8221; &#8220;Ha&#8230; tu ada satu lagi bas ekspres. Liza tengok abang motong dia aaa&#8230;.&#8221; Usin terus masuk gear 3, pedal minyak ditekannya hingga jejak ke lantai.</p>
<p>Usin terus membelok ke kanan untuk memotong dan &#8230;.di depannya tersergam sebuah lori balak yang besar dan gagah dan&#8230;.. BANG!!</p>
<p>&#8220;Usin&#8230;.bangun Sin,&#8221; sayup-sayup terdengar suara emaknya. Usin membuka matanya. Dia terlihat emaknya di situ. &#8220;Mana Liza mak? Macammana dengan Liza mak? Farah, Adi&#8230;. mana anak-anak saya mak?&#8221; Bertubi-tubi Usin menyoal emaknya. Usin tak dapat menahan kesedihannya lagi. Usin menangis semahu-mahunya di depan emaknya.</p>
<p>Emaknya memandang Usin tepat-tepat. &#8220;Macamana dengan isteri Usin mak, Liza?&#8221; Usin masih terus menangis.</p>
<p>PANGGG!!</p>
<p>Kepala Usin yang botak itu ditampar oleh emaknya dengan tiba-tiba. Usin terdiam. Kenapa emaknya buat dia macam tu? &#8220;Banyak la engkau punya isteri! Keja pun pemalas ada hati nak berbini. Tu la, tidur lagi senja-senja macam ni! Dah!!! Bangun pegi sembahyang!&#8221; emaknya terus merungut sambil berlalu keluar&#8230;.</p>
<p>Dan Usin tersengih keseorangan. Rasa macam nak masuk dalam tin biskut! Malu konon!!</p>
<p><font color="#0000ff" face="Arial" size="2">(Copyright © Ketawa)</font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maydi.wordpress.com/54/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maydi.wordpress.com/54/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maydi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maydi.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maydi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maydi.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maydi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maydi.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maydi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maydi.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maydi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maydi.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maydi.wordpress.com&blog=390349&post=54&subd=maydi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/isteriku-liza/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a361ae76f536ccf3675954b781a4d28c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Anang Banjar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Don&#8217;t Worry</title>
		<link>http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/dont-worry/</link>
		<comments>http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/dont-worry/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 03:48:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anang Banjar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Just For Laugh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/dont-worry/</guid>
		<description><![CDATA[Masa aku balik dari Singapore menaiki Train adalah tiga orang yang duduk bersama, dua didepan aku satu kat sebelah. Yang kat depan aku ni, orang American dan disebelahnya orang Cuba. Sebelah aku pulak orang Chines. Dalam perjalanan tu kami pun berborak-boraklah pasal negara sendiri&#8230; borak punya borak, tiba-tiba si American ni pun keluarkan duit $ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maydi.wordpress.com&blog=390349&post=53&subd=maydi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Masa aku balik dari Singapore menaiki Train adalah tiga orang yang duduk bersama, dua didepan aku satu kat sebelah. Yang kat depan aku ni, orang American dan disebelahnya orang Cuba. Sebelah aku pulak orang Chines. Dalam perjalanan tu kami pun berborak-boraklah pasal negara sendiri&#8230; borak punya borak, tiba-tiba si American ni pun keluarkan duit $ 100 lalu dibakarnya, dikeluarkannya sebatang rokok lalu dibakarnya rokok itu dengan duit tadi, lepas tu dibuangnya duit itu keluar. Terkejutlah semua melihat kelakuan Orang Putih tu tadi&#8230; bertanyalah si orang Cuba tadi &#8220;Why you do that for?&#8221;. Dengan selamba Orang Putih tu menjawab &#8220;Don&#8217;t worry, I got a lot American dollar in my country&#8221;.<span id="more-53"></span><!--more--></p>
<p>Tercengganglah masing-masing. Belum habis tercenggang. si Cuba ni pun tiba-tiba mengeluarkan sebatang curut (curut Cuba adalah antara yang termahal di dunia) lalu dinyalakannya. Belum sempat beberapa sedut.. terus dia membuangnya keluar tingkap&#8230;&#8221;Why you do that for&#8221; kata american tadi&#8230; &#8220;Don&#8217;t worry, i got a lot cigar in my country&#8221;.</p>
<p>Terkejutlah aku dibuatnya. Masa tu aku tengok Chines tu tengah pikir apa nak dibuat pulak. Masa dia tengah fikir. Aku pun apa lagi&#8230; tangkap Chines tu terus aku campak dia ke luar tingkap, belum sempat dia orang tanya lagi aku pun cakap lah&#8230; &#8220;DON&#8217;T WORRY, I GOT A LOT CHINES IN MY COUNTRY&#8221;.</p>
<p><font color="#0000ff" face="Arial" size="2">(Copyright © Ketawa)</font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maydi.wordpress.com/53/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maydi.wordpress.com/53/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maydi.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maydi.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maydi.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maydi.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maydi.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maydi.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maydi.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maydi.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maydi.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maydi.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maydi.wordpress.com&blog=390349&post=53&subd=maydi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/dont-worry/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a361ae76f536ccf3675954b781a4d28c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Anang Banjar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ceta Pengemis dan Pelajar Universiti</title>
		<link>http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/ceta-pengemis-dan-pelajar-universiti/</link>
		<comments>http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/ceta-pengemis-dan-pelajar-universiti/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 03:38:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anang Banjar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Just For Laugh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/ceta-pengemis-dan-pelajar-universiti/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang mahasiswa tengah asyik berbual dengan seorang pengemis tua di depan kampus UITM.
Mahasiswa : &#8220;Sudah lama mengemis di sini pakcik?&#8221;
Pengemis : &#8220;Ya&#8230; lebih kurang sudah 8 tahun , nak!&#8221; Mahasiswa : Wah, sudah lama juga ya pakcik.. sehari biasanya dapat berapa pakcik?&#8221;
Pengemis : &#8220;Paling sedikit RM 50.00 nak &#8230;&#8221;
Mahasiswa : &#8220;Banyak juga ya pakcik&#8221;
Pengemis : [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maydi.wordpress.com&blog=390349&post=52&subd=maydi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Seorang mahasiswa tengah asyik berbual dengan seorang pengemis tua di depan kampus UITM.</p>
<p>Mahasiswa : &#8220;Sudah lama mengemis di sini pakcik?&#8221;<br />
Pengemis : &#8220;Ya&#8230; lebih kurang sudah 8 tahun , nak!&#8221; Mahasiswa : Wah, sudah lama juga ya pakcik.. sehari biasanya dapat berapa pakcik?&#8221;<br />
Pengemis : &#8220;Paling sedikit RM 50.00 nak &#8230;&#8221;<br />
Mahasiswa : &#8220;Banyak juga ya pakcik&#8221;<br />
Pengemis : &#8220;Bolehlah nak, untuk keluarga&#8230;&#8221;<br />
Mahasiswa : &#8220;Ehhhh&#8230;keluarga ada di mana?&#8221;<span id="more-52"></span><br />
Pengemis : &#8220;Anak pakcik semuanya ada 3 orang, yang pertama ada di Universiti Putra Malaysia di Selangor, yang kedua ada di Universiti Utara Malaysia di Kedah dan yang ketiga di Universiti Sains Malaysia di Penang&#8230;&#8221;<br />
Mahasiswa : &#8220;Subhanallah, hebat-hebat keluarga pakcik ni&#8230; boleh tahan juga yerrr..!! Eh.. Anak pakcik tu semuanya masih kuliah ker?&#8221;<br />
Pengemis : &#8220;Tak arrrrrr&#8230;. semuanya mengemis seperti pakcik&#8230;&#8221;</p>
<p><font color="#0000ff" face="Arial" size="2">(Copyright © Ketawa)</font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maydi.wordpress.com/52/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maydi.wordpress.com/52/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maydi.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maydi.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maydi.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maydi.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maydi.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maydi.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maydi.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maydi.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maydi.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maydi.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maydi.wordpress.com&blog=390349&post=52&subd=maydi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/ceta-pengemis-dan-pelajar-universiti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a361ae76f536ccf3675954b781a4d28c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Anang Banjar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Petikan Teka-Teki</title>
		<link>http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/petikan-teka-teki/</link>
		<comments>http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/petikan-teka-teki/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 03:33:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anang Banjar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Just For Laugh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/petikan-teka-teki/</guid>
		<description><![CDATA[Kuih ape yang bungkusnya di dalam, isinya di luar?
Kuih salah bikin.
Binatang ape power Karate?
Kuda belang. Cube kira berape black belt dia ade.
Siape yang menemukan dompet kulit?
Yang menemukan dompet kulit tersebut tolong pulangkan kepada saye.
Pintu ape yang walaupun dengan 10 org pun tak leh nak tolak?
Pintu yang ade tulis &#8216;TARIK&#8217;
Saya ade 3 kepala, 4 tangan dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maydi.wordpress.com&blog=390349&post=51&subd=maydi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kuih ape yang bungkusnya di dalam, isinya di luar?<br />
Kuih salah bikin.</p>
<p>Binatang ape power Karate?<br />
Kuda belang. Cube kira berape black belt dia ade.</p>
<p>Siape yang menemukan dompet kulit?<br />
Yang menemukan dompet kulit tersebut tolong pulangkan kepada saye.</p>
<p>Pintu ape yang walaupun dengan 10 org pun tak leh nak tolak?<br />
Pintu yang ade tulis &#8216;TARIK&#8217;</p>
<p>Saya ade 3 kepala, 4 tangan dan 5 kaki&#8230;siapakah saya?<span id="more-51"></span><br />
Pembohong&#8230;</p>
<p>Apa dia &#8216;Jauh di mata, dekat di hati&#8230;&#8217;?<br />
Usus</p>
<p>Binatang ape yang seluruh anggota tubuhnya kat kepala?<br />
Kutu rambut</p>
<p>Nenek sape jalannya meloncat-loncat?<br />
Neneknye si katak</p>
<p>Knape lelaki jarang kene penyakit anjing gila?<br />
Sbb lelaki ni kan &#8216;buaya&#8217;</p>
<p>Ape beza sekretari baik ngan sekretari kurang baik?<br />
Sekretari baik&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8217;Selamat pagi tuan&#8217;<br />
Sekretari kurang baik&#8230;&#8230;&#8230;..&#8217;Dah pagi ni tuan&#8217;</p>
<p>Ape persamaan Michael Jordan ngan Michael Jackson?<br />
Dua-dua tak kenal korang&#8230;hehe</p>
<p>Tukang ape yang kalau dipanggil, die menjenguk ke atas?<br />
Tukang gali kubur</p>
<p>Nak mencari sikit punye susah, bile dah dapat buang, ape bendanya?<br />
Tahi hidung</p>
<p>Ape persamaan kain jemuran ngan telefon?<br />
Dua-dua kalau dah &#8216;kringgg&#8217; bole diangkat&#8230;</p>
<p>Knape pokok kelapa kat depan rumah harus ditebang?<br />
Mestilah kene tebang, sape nak cabut pokok kelapa &#8230;gile ape&#8230;</p>
<p>Gajah terbang dengan ape?<br />
Dengan susah payah&#8230;&#8230;</p>
<p><font color="#0000ff" face="Arial" size="2">(Copyright © Ketawa)</font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maydi.wordpress.com/51/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maydi.wordpress.com/51/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maydi.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maydi.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maydi.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maydi.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maydi.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maydi.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maydi.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maydi.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maydi.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maydi.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maydi.wordpress.com&blog=390349&post=51&subd=maydi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maydi.wordpress.com/2006/12/26/petikan-teka-teki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a361ae76f536ccf3675954b781a4d28c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Anang Banjar</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>