Agama mengajarkan “cintailah sesamamu”. Orang yang tidak mau menaruh perhatian pada sesamanya, yang bersikap egois pasti akan menderita kesulitan besar dalam hidupnya, kesulitan bersosialisasi dan kesulitan beradaptasi. Orang yang memiliki typical egois sangat menyusahkan orang lain, dan orang-orang semacam itulah yang menyebabkan kegagalan seluruh umat, hancurnya peradaban, kebudayaan, dan kelestarian dalam membina keharmonisan karena mementingkan hak prinsipil tanpa memerhatikan kondisi sekitar dengan memprioritaskan kepentingan umum.
Kita berharap dari setiap perangai manusia agar mereka menjadi sosok yang memiliki sifat peka terhadap lingkungan dimana dia tinggal dan mempunyai jiwa sosial tinggi yang simpatik, sahabat bagi sesamanya serta pribadi yang menyenangkan dalam komunitasnya. Bukan malah sebaliknya, menjadi musuh bagi rekannya serta menjadi sumbu api yang menyulut kekacauan, ketidak harmonisan yang akhirnya menciptakan kondisi pergaulan tidak kondusif. Satu sama lainnya tidak pernah bertegur sapa, saling gondok-gondokkan, mau menang sendiri, ujung-ujungnya saling menceritakan aib dan kejelekan. Tanpa disadari, dimensi waktu (pertikaian) yang dilalui telah membutakan mata, memekakkan telinga lalu kosong, hampa. Komunitas dimana mereka tinggal berubah menjadi kebuasan, keharmonisan menjadi perkelahian dan ketenangan berubah menjadi kegalauan, siapa kuat dialah yang keluar sebagai pemenang, siapa yang sanggup menghadapi kerusakan dan kekacauan dialah sang juara diantara binatang-binatang liar. Lantas! Yang lemah, murung dalam ketidak berdayaan sambil merenungi kondisi lingkungan hidup yang teramat ganas, tiada peraturan, tiada batasan norma, tiada hakim, akhirnya yang lemah menjadi pecundang, terbawa arus pergaulan dan akhirnya diapun menjadi picik dan licik.
Jadilah manusia yang berperasaan, wajar dan matang. Percayalah! Disaat paradigma egois yang memiliki sifat dasar ingin menang sendiri tak lagi digunakan kemudian berusaha untuk menegakkan sendi-sendi kebersamaan yang biasanya tegak berdiri dalam suasana rukun dan harmonis niscaya kehidupan dunia semakin bersemarak dan alam raya pun tersenyum, terpukau oleh keadaan hidup manusia yang bersahaja, yang berusaha untuk menyenangkan sesama, setidaknya untuk menciptakan suasana yang bersahabat yang mana kawan bukanlah lawan, yang mana sahabat bukanlah penjahat.
Altruisme (Sikap mementingkan hajat public) begitu dibutuhkan pada kondisi negara kita yang sekarang ini sering di timpa kemalangan dan musibah. Alangkah indahnya jikalau penguasa dan pengusaha mempunyai jiwa altruisme niscaya tidak lagi terdengar keluh kesah rakyat Indonesia. Para pemimpin tidak lagi terpaku Kaum kaya raya mau membagi sedikit hartanya Gunakanlah hati nurani, akal dan perasaan! Ciptakanlah suasana lingkungan dimana kita berdiam penuh dengan nilai norma dan susila yang patut, minimalnya berusaha untuk menjaga kebersihan dan peraturan yang berlaku.
Terakhir, saya ingin mencoretkan sebuah ilustrasi buat kawan setumpuk- sependeritaan di banua urang:
Bila engkau wahai kawan tidak bisa jadi pohon cemara diatas bukit
Jadilah belukar dilembah- tapi harap jadilah belukar indah dipinggir parit
Bila engkau tidak bisa jadi rajawali yang terbang tinggi dicakrawala
Jadilah nuri yang berkicau indah didahan
Bila engkau wahai sahabat tidak bisa jadi pelipur lara dikala duka
Jadilah sebuah oase kedamaian ditengah badai pasir kehidupan
Bukan besarnya yang mengukur engkau kalah dan menang
Yang penting jadilah wajar dan matang …………
“kebahagian untuk diri sendiri tergantung pada kebahagiaannya dalam diri orang lain dan kebahagiaan mereka ada dalam dirinya”.