Tulisan ini merupakan ringkasan yang saya sadur ulang dari buku yang berjudul Kiat jadi Dai Muda karangan Ust. Jefri Al-Bukhari.
Cairo, Friday 4 January 2008
Belajar dari kepala dan leher
Kenapa kita belajar pada kepala dan leher. Karena saat menengok sedikit ke atas kita bisa melihat keindahan. Tapi kalau terlalu mendongak ke atas memang juga melihat keindahan tapi leher kita sakit bahkan susah bicara. Hemat saya kalau bercita-cita jangan ketinggian nanti sakit. Leher dan kepala bagi saya mengajarkan tentang hidup. Lebih bertahan mana antara orang yang banyak melihat ke atas dan kebawah? Kenapa? Karena mentalitas, fisik, spiritual lebih bertahan, lebih kuat dengan tawadhu, rendah hati.
Tahap persiapan Ceramah
Ada pepatah latin yang berbunyi: “Qui ascendit sine labore, descendit sine honore”. (mereka yang naik tanpa kelelahan akan turun tanpa kehormatan). Jadi bukan hanya sekadar kata mutiara. Pidato atau ceramah yang baik harus didahului dengan persiapan yang matang.
Memasuki inti persiapan adalah memilih topic dan menentukan tujuan. Tujuan sering kali menentukan pemilihan topic. Misalnya, kita sebagai dai merasa lingkungan sekitar kurang memiliki minat besar terhadap pengamalan dan pengajiran quran. Nah sewaktu kita diundang ceramah kita ingin agar agar ceramah kita bisa mendorong atau membangkitkan minat-minat tersebut.
Cara menentukan Topik yang baik:
- Topik yang dipilih sesuai dengan latar belakang pengetahuan kita.
Karena dengan demikian kita sedikit lebih tahu/ahli dari pendengar.
2. Topik harus menarik minat kita sendiri.
Topik yang paling enak dibicarakan adalah topic yang menyentuh emosi anda.
Misalnya, tarulah kita sudah lama memendam rasa prihatin yang dalam
terhadap kebersihan. Tahu-tahu suatu saat kita diminta ceramah dengan topik
yang berkaitan dengan ini, maka concern lama kita ini otomatis akan
merupakan pendorong yang membuat kita lancar bicara.
- Topik harus menarik minta pendengar.
- Topik harus jelas ruang lingkup dan pembahasannya.
Jadi topik tidak boleh terlalu luas karena di khawatirkan akan ngawur kesana kemari sehingga pendengar tidak bisa menangkap inti pembicaraan kita.
Dari semua kreteria ini sebenarnya bisa disimpulkan menjadi dua saja, yaitu pertama, topik harus benar-benar anda kuasai dan merupakan keprihatinan (concern) anda sendiri dan yang kedua, ruang lingkupnya harus jelas dan disesuaikan dengan minat pendengar serta tantangan situasi.
Ceramah biasanya memiliki tujuan ini: memberitahukan (informatif), mempengaruhi (persuasif), dan menghibur (rekreatif).
Tahap Penyusunan Materi
Sebuah materi ceramah akan lancar jika memenuhi 3 syarat: 1) menyatu padu (unity); 2) bertautan (coherence); 3) adanya titik berat/penekanan (emphasis).
Teknik Penyusunan Materi
Pada pokoknya teknik outline terbagi dua, yaitu: Pertama, outline yang menggunakan lambang angka atau kombinasi lambang angka dan huruf. Kedua, outline yang menggunakan “pohon” gagasan.
Contoh dengan lambang kombinasi:
I. _________________________________________________
A. ______________________________________________
1. _____________________________________________
a. ___________________________________________
b. ___________________________________________
2. _____________________________________________
a. ___________________________________________
b. ___________________________________________
B. _______________________________________________
1. _____________________________________________
a. ___________________________________________
b. ___________________________________________
2. _____________________________________________
a. ___________________________________________
b. ___________________________________________
II. _________________________________________________
…dan seterusnya
Keterangan:
Lambang I disejajarkan dengan pasangannya di bawah yaitu lambang II; A disejajarkan dengan B, begitu seterusnya. Manfaatnya selain tidak mengaburkan pikiran penceramah sendiri karena sudah jelas posisi masing2x juga untuk menunjukkkan bahwa uraian I berposisi sejajar dengan uraian II, sehingga kalau I berisi pengantar, maka II sudah jelas adalah bagian isi dan III adalah penutup. Lalu kalau uraian A berisi contoh penunjang untuk bagian pengantar ( uraian I), berarti uraian B pun masih berisi contoh penunjang untuk bagian yang sama pula; misalnya uraian A adalah contoh pertama sedang uraian B adalah contoh kedua, begitu seterusnya.
Praktik latihan
“Untuk menjalani kehidupan yang kreatif, kita harus menyingkirkan ketakutan kita untuk berbuat salah.“ Joseph Chilton Pearce.
“Apa pun yang dapat Anda lakukan, atau ingin Anda lakukan, mulailah! Keberanian untuk memulai memiliki kecerdasan, kekuatan dan keajaiban didalamnya.“Goethe.
Kalau anda sudah mengerti pada penjelasan di atas tadi, sudahkah anda ingin mempraktikannya?
Untuk ini kita coba mengambil contoh terhadap ceramah Aa gym yang berdekatan dengan peringatan 17 Agustus. Waktu itu topiknya Kita coba menyontoh kepada ceramah Aa Gym Indahnya Rasa Syukur.
Apa yang anda pikirkan seandainya diminta ceramah dengan topik tersebut? Uraian apa yang bisa anda pikirkan tentang tema itu?
Aa Gym dengan cemerlang mengantari topic tersebut dengan pertanyaan tentang hakikat merdeka, karena suasana peringatan kemerdekaan RI masih terasa hangat dikalangan hadirin.
“Kemarin dengan penuh rasa syukur kita telah memperingati hari kemerdekaan bangsa kita. Apa sih sebenarnya yang dimaksud merdeka itu?” kira-kira begini pertanyaan retoris beliau. “Selain merdeka dari penjajahan, merdeka dalam arti sebenarnya adalah merdeka dari hawa nafsu; merdekanya hati kita dari segala hal yang mengimpitnya: dari obsesi berlebihan, mode, gengsi-gengsian, dan sebagainya, sehingga hati kita akan terasa lapang bahagia, walau dalam keadaan apa pun.”
Setelah itu beliau lalu masuk pada macam-macam contoh orang yang sebenarnya, disadari atau tidak masih terjajah!
Ada orang yagn jadi korban mode. Dengan gaya ceritanya yang hidup beliau menceritakan pengalamannya sendiri. Kira-kira begini: “Dulu waktu Aa masih SMA, Aa juga pernah jadi korban mode. Waktu itu Aa ingin rambut Aa yang lurus seperti lidi ini jadi keriting, ngikutin mode biar kayak artis dunia terkenal… Dengan susah payahhnya Aa mau-maunya duduk berjam0jam dan bolak-balik ke salon hanya untuk rambut keriting itu. Eh karena rambutnay memang lurus begini, bukannya keriting gaya seperti.. malah rambut Aa jadi makin amburadul:” Para hadirin pun riuh tertawa. “Ini yang namanya korban mode,” lanjut beliau.
“Ada juga orang jadi budak obsesinya sendiri. Dia ingin harta sebanyak-banyaknya, menumpuk terus sampai tak kenal leah tak kenal waktu. Rumahnya megah seperti istana, mobil mewah gonta ganti terus. Taman luas dan vila asri pun sudah tercapai. Eh anehnya dia belum puas puas juga. Keadaan serba ada yang dulu dia bayangkan seperti surga malah terasa biasa-biasa saja, seperti hambar-hambar saja.. sama sekali tak ada lagi kejutan nikmatnya! Sering ia suntuk, sumpek, resah dan gelisah…”
“Ada juga orang yang terlalu memikirkan gengsi materi. Takut sekali kalau dianggap rendah dan ketinggalan zaman sama orang. Mobilnya epngen merek wah, rumahnya pengen di kompleks paling elit, pokoknya segalanya pengen yang paling bergengsi. Sedikit saja ada keinginan gengsinya yang belum tercapai, dia ngerasa seperti minder dan rendah diri. Dia terus terobsesi mimpinya untuk mengejar dan mengejar gengsi…..” Ssegera berondongan kata-kata ini disusul Aa dengan gaya dan nadanya yang khas sekali: “Tahu-tahu, O! Dia stress dan akhirnya mati!” Para hadirin pun tersenyum geli.
Setelah menceritakan contoh-contoh itu lalu beliau menandaskan: “Orang-orang seperti itulah yang sebenarnya hidupnya masih dijajah. Merasa bebas padahal terjajah, merasa merdeka padahal jadi budak. Tanda-tandanya: Pikiran sumpek, jiwa kering kerontang, rentan stress, dan penyakitan.”
Nah bagaimana Ibu-ibu/Bapak-bapak, apa di sini ada yang mau terjajah?
Aa melanjutkan: “Supaya kita bebas merdeka, jiwa lapang terasa bahagia, kita harus menemukan kuncinya. Kuncinya adalah, Rasa syukur! Rasa syukur! Kemerdekaan pun tidak akan menghasilkan apa-apa kalau tidak diisi dengan rasa syukur. Bagaimana mungkin situasi merdeka ini bisa membuahkan kebahagiaan bila kita sia-siakan begitu saja, bila tidak digunakan sebaik-baiknya dan tidak kita syukuri?
Memang harus kita akui situasi merdeka sendiri adalah sebuah kenikmatan besar. Dengan perubahan nada yang kalem Aa melirik pada Teteh: “Mah gimana ingat tidak waktu susahnya zaman terjajah?”….. Jelas situasinya serba sulit dan mencekam. Sudah pailit takut “didor” pula. Jadi situasi merdeka memang nikmat luar biasa.
Tapi ingat, nah ini kuncinya, jangna lupa bahwa betapapun situasi merdeka itu kenikmatan besar, tapi kenikmatan sendiri bukan tergantung pada situasinya, melainkan pada rasa syukur kita sendiri! Banyak orang yang situasinya bebas, bahkan serba ada, tapi kerjaannya malah hura-hura, ke sana kemari tidak jelas apa yang dia maui, sehingga kahirnay situasi itu tak pernah mendatangkan kebahagiaan. Banyak orang kaya yang tak kurang apa pun, tapi situasi serba ada malah terasa biasa-biasa saja, hambar saja, bahkan suntuk dan bosan. Ini sekali lagi karena kenikmatan bukan tergantung pada situasi, kebahagiaan bukan terletak pada apa yang kita miliki, tidak sama sekali, melainkan pada hati yang penuh syukur.
Betapapun berlimpahnya harta kita, tapi kalau hati kita tidak mau syukur, tidak merasa harta itu sebagai limpahan nikmat yang luar biasa, maka semua itu akan terasa hambar saja. Jadi kuncinya adalah hati yang penuh syukur.
Ada seorang kuli bangunan yang dengan giatnya terus bekerja di bawah terik mentari. Saking giatnya tanpa terasa tahu-tahu waktu makan sudah tiba. Dia tampak senang sekali. Begitu makanan sederhana itu dihidangkan, dengan lahapnya ia menyantap. Ia tampak nikmat sekali. Kebetulan seorang pemimpin proyek melihatnya. Ia sendiri sudah 3 hari sedang tidak enak makan, karena pusing mikirin proyek dan takut gagal. Dalam hati ia sangat iri. “Wah seandainya aku bisa makan senikmat itu!”
Jadi Bapak/Ibu, Adik-adik, mau pilih jadi kuli atau pemimpin proyek?
Jadi sebenarnya nikmat itu datangnya bukan dari situasi, bukan dari harta kekayaan, tapi dari bagaimana hati bersikap, penuh syukur apa tidak? Makan dengan ikan asin pun, seperti saya ceritakan tadi, kalau hati lagi penuh syukur terasa begitu nikmat. Sebaliknya banyak orang yang saking banyak menu malah puyeng memilih, udah gitu tidak nikmat lagi. Jadi betapa nikmat dan indahnya rasa syukur!
Sekarang masalahnya, bagaimana biar kita punya rasa syukur, biar hati kita penuh syukur terus, biar hidup kita terasa nikmat dan bahagia?
Supaya kita bisa syukur terus, ada 5 kunci.
Pertama, ingat selalu bahwa hidup ini milik Allah, semua yang kita miliki hanya titipan dari Nya. Dengan ngerasa hidup ini sebagai titipan, sebagai pinjaman, kita akan ngerasa betapa detik demi detik hidup ini amat berharga, merupakan kepercayaan dari Allah. Sebab kapan pun Allah mau, hidup kita ini tahu-tahu akan habis. “O!”, mati kita.
Kunci kedua, biar kita syukur terus, hidup nikmat lapang bahagia, jangan suka ingat apa yang tidak ada, ingat yang ada saja. Kita mau makan lauknya hanya tempe tahu, kalau kita ingatnya daing, wah enak sekali ya kalau saya makan sama daging, maka makan itu tidak akan jadi nikmat. Karena bukannya kita mensyukuri yang ada, malah membayang-bayangkan yang tidak ada. Kalau kita kufur nikmat, kata Allah, maka rasakan azab-Ku yang pedih. Betul, kalau kita kufuri nikmat yang sudah ada, bukannya nikmat itu akan menjadi nikmat, malah kita ngerasa kurang terus, kita ngerasa sengsara dan sedih.
Lagipula sekecil atau seremeh apa pun nikmat, sebetulnya dia sangat besar dan luar biasa. Coba lihat contoh tadi, ketika ada tahu dan tempe, lalu hati malah mengeluh karena sedang mengingkari nikmat yang sudah ada. Padahal seandainya nikmat yang sudah ada itu hilang, atau kita nggak dikasih Allah, misalnya nasi dan tempe pun tak punya, maka kesedihan tidak adanya tempe tahu serta nasi itu akan jauh lebih besar daripada sekedar tidak ada daging. Jadi nikmatnya nikmat yang sudah ada sebenarnya luar biasa dan jauh lebih besar disbanding “kekurangsenangan” kita atas nikmat yang belum ada. Jadi kalau kita sudah pandai menghargai nikmat yang sudah ada, karena dia sangat luar biasa, kenapa kita harus menginginkan nikmat yang belum ada? Kata para sufi keinginan yang tak perlu itu memang penyakit, bikin stress dan sumpek.
Ini ada kisah nyata. Seorang gadis muda yang berasal dari dusun pergi ke kota bekerja sebagai pembantu dirumah orang kaya……….. dan seterusnya.
Kunci ketiga, ini sering kita dengar, lihat ke bawah jangan lihat ke atas. Sabda Nabi Saw, “lihatlah orang-orang yang ada dibawah kalian, jangan melihat orang-orang yang ada di atas kalian.” Lihat ke atas pasti akan terasa sumpek, rasanya kita seorang diri saja yang kekurangan. Tapi kalau lihat ke bawah, rasanya hati ini akan terasa bahagia. Rasa syukur dengan sendirinya akan mengalir dari dalam hati, sejuk seperti orang yang kehausan tahu-tahu menemukan air.
Kunci keempat, supaya kita bisa terus melihat ke bawah, jangan terlalu sering melirik ke atas, sering-seringlah bertegur sapa dan bercengkrama dengan orang-orang papa. Bantu mereka sebisanya kita. Pasti kita akan sering dapat sejuk air rasa syukur itu. Sebagai manusia yang penuh nafsu, penuh angan dan keinginan, biasanya kita ini lebih cenderung ingin melihat ke atas. Bahkan dorongan itu begitu besarnya sehingga kalaupun kita tahu harus melihat ke bawah, tapi secra tak sadar diam-diam kita sering bahkan hampir lihat ke atas terus. Ini bahaya, bisa bikin stress. Nah lawan kecenderungan ini dengan kebiasaan sedekah, dengan kebiasaan menolong orang yang lagi kesusahan, menengok orang yang sakit dan seterusnya.
Jadi kalau begitu sedekah itu saja membantu mereka, tapi sebenarnya membantu kita juga. Bahkan boleh jadi kita yang lebih banyak terbantu. Karena dari situ rasa syukur dengan sendirinya akan mengalir. Nikmat apa lagi yang lebih besar dari rasa syukur, yang tanpa itu semua nikmat akan terasa hambar dan lenyap. Boleh anda punya apa saja, tapi kalau tidak ada rasa syukur wah ibarat orang yagn kehilangan seluruh harta bendanya, bahkan hidupnya seperti lenyap ditelan kufur nikmat.
Kunci kelima, ridha sama takdir. Sudah jadi takdir Allah kalau dalam hidup ini suka dan duka datang silih berganti. Sesekali kita dapat suka, tapi sesekali dapat duka. Ini tidak orang kaya tidak orang miskin, semuanya sama. Tapi yang dianggap buruk dan menyulitkan buat kita, boleh jadi di sisi Allah baik. Dan sebaliknya yang menurut kita baik boleh jadi sebenarnya berakibat buruk. Jadi kalau begitu lebih baik kita pasrah dan ridha saja sama takdir. Kita hanya usaha dan Allah yang Maha tahu sebaiknya kita ini dikasih apa.
Kalau kita lagi tertimpa musibah, mungkin hakikatnya musibah itu lebih baik buat kita, karena musibah bisa mengurangi dosa, asal kita pasrah dan sabar menerimanya. Ada anekdot tentang seorang sahabat, namanya Abdullah bin Umar. Suatu ketika terbetik kabar bahwa Abdullah bin Umar kecurian harta-harta berharganya. (mencuplik kisah salah satu sahabat yang terkena musibah kemudian dia bersyukur karena dengan begitu para sahabat tadi menemukan banyak fungsi musibah: lantas beliau mengurai kan bahwa musibah itu: 1) segera mengingatkanku akan betapa berharganya harta yagn telah hilang itu. Karena nikmat itu akan begitu terasa sekali nikmatnya kalau pas begitu lenyap dari kita, begitu kita nggak bisa lagi merasakannya; 2) bisa mengurangi dosa selagi kita sabar; 3) bisa lebih mensyukuri nkmat yang masih ada, coba kalau hartaku semua hilang, wah bisa berabe?”.
Coba, Ibu/Bapak, Adik, pernahkah pas dapat musibah kita senang-senang saja? Atau minimal kita merasa biasa saja, karena kita yakin sebagai hamba kita harus dapat ujian.
Jadi, dengan mental ridha kepada takdir, musibah yang membuat kita sedih pun bisa segera kita atasi. Malah sisi baiknya akan segera kita syukuri, sehingga rasa syukur itu akan tetap terpelihara dalam hati.
Kesimpulannya, agar hidup kita bebas merdeka, jiwa lapang terasa bahagia, kita harus punya kuncinya, kuncinya adalah punya rasa syukur terus. Gimana biar kita bisa syukur terus, caranya ada lima kunci: pertama.. kedua.. ketiga.. keempat.. dan terakhir yang kelima.. Dengan 5 kunci ini insya Allah kita akan punya rasa sukur terus, dan dengan rasa syukur hidup akan terasa nikmat bahagia. Jadi betapa indahnya rasa syukur ini.”
Membedah Materi Ceramah
Manakah bagian-bagian uraian dari ceramah itu yang merupakan pengatar, isi serta penutup? Berikut outline detailnya:
I. Pengantar
A. Pernyataan awal tentang baru diadakannya peringatan HUT
kemerdekaan RI, dan pertanyaan susulan tentang apa sih yang
dimaksud merdeka itu.
B. Selain merdeka dari penjajahan fisik, merdeka dalam arti sebenarnya
adalah merdekanya jiwa dari segala sesuatu yang menghimpit dan
menjajahnya: penjajahan setan, nafsu, gengsi materi, mode, dan
sebagainya; hingga akhirnya jiwa bebas merdeka, lapang terasa
bahagia.
II. Isi
A. Contoh-contoh orang yang masih terjajah!
1. Orang yang korban mode
2. Orang terjajah harta
3. Orang terjajah obsesinya sendiri
B. Penegasan: Inilah sebenarnya model-model orang yang masih terjajah;
pikiran sumpek dan jiwa kering kerontang.
C. Kunci supaya jiwa bebas merdeka adalah rasa syukur. Ya, rasa syukur! Karena hati yang penuh syukur bisa membebaskan jiwa dari situasi apa pun, bisa mendatangkan rasa syukur penuh bahagia dalam keadaan apa pun, inilah indahnya rasa syukur!
D. Kalau begitu kita harus menemukan kunci untuk terus bersyukur. Kuncinya ada 5:
1. Selalau ingat hidup ini milik Allah semata, hidup kita hanya titipan saja
2. Jangan suka mengingat/membayangkan apa yang tidak ada, ingat saja nikmat yang sudah ada
3. Lihat ke bawah jangan lihat ke atas
4. Rajin sedekah ke orang-orang papa
5. Ridha kepada takdir
E. Penegasan: inilah 5 kunci syukur, yang dengannya kita bisa terus
syukur dan membuat jiwa kita bebas merdeka, lapang terasa bahagia.
III. Penutup/Kesimpulan:
A. Supaya jiwa kita bebas merdeka, tidak terpasung penjajahan apa pun, kita perlu terus bersyukur dalam keadaan apa pun.
B. Untuk terus bersyukur ada 5 kunci, yaitu: … dengan ini insya Allah jiwa kita akan bebas merdeka, rasa bahagia terasa mengalir di dalam dada. Inilah indahnya rasa syukur.
Penggerak Alur Lancar
Kalau kita lihat susunan outline yang rapid an tertib ini, apa yang sebenarnya bisa membuatnya berceramah secara memikat dan lancar?
Selain karena tertib dan rapi tadi (masing-masing bagian punya posisinya masing-masing, dan setiap posisi yang sama berbaris sejajar seperti barisan tentara), sifat pengantarnyalah yang menggerakkan susunan materi itu jadi lancar. Apa pasal? Pertama, pengantar itu bertolak dari hal yang masih jadi perhatian atau suasana yang masih meliputi pendengar, sehingga langsung terasa akrab. Kedua, membangkitkan perhatian dengan lontaran pentanyaan yang cukup menggelitik; perhatian terhadap pokok/topic pembicaraan. Dan ketiga, memberikan jawaban atas pertanyaan itu secara padat dan memikat; padat seolah mencakup semua pesoalan yang akan diuraikan, dan memikat karena menyajikan bebasnya jiwa hingga lapang bahagia.
Ketiga sifat pengantar ini membuka “ruang psikologis” di dalam jiwa si pendengar, yakni ruang kesediaan untuk menyimak dengan penuh perhatian terhadap pokok pembicaraan yang akan di uraikan.
Cara Membuka Ceramah
Karena pengantar adalah pelatuk untuk “derap” seluruh susunan materi, maka sebelum menentukan jurus pengantar, kita harus terlebih dulu menguasai seluruh materi yang akan diuraikan. Ini yang pertama. Kedua, kita harus cukup mengenal sifat pendengar dan situasi yang mereka hadapi, sehingga dari sini kita dapat mencari bahan yang akrab dan dekat dengan mereka
Di sini kita akan memberikan contoh-contoh pengantar yang baik untuk menginspirasi kreativitas bagi penyusunan pengantar. Contoh-contoh ini diambil dari berbagai penceramah dan situasi yang berbeda:
٭ Contoh pengantar Aa Gym di atas bisa dijadikan bahan renungan, bahan
pelajaran untuk mengasah kepekaan kreasi kita dalam membuat pengantar.
٭ Salah seorang peserta Mimbar Dai di TPI, dihadapan pendengar Ibu-
ibu/Bapak-bapak dan para remaja, memberi pengantar yang bagus.
Topiknya tentang Pentingnya Senyum. Sambil menuju panggung dia terus
menbear senyum. Setelah mengucapkan salam, puji syukur serta shalat
kepada Nabi Saw, sang dai kembali menebar senyum. “Bu,Pak, katanya
mengawali ceramahnya, “Senyum dong Bu. Jangan cemberut begitu!” para
hadirin masih terdiam saja. Ia lanjutkan: “Coba sekarang lihat, cakepan
senyum saya atau kalian?” Para hadirin pun terutama yang remaja mulai
terbangkitkan perhatiannya.
٭ Pengalaman saya sendiri (Ust. Jefri) sewaktu diundang ceramah di
lingkungan Band Slank. Waktu itu saya ucapkan salam dan hamdalah,
mereka seperti cuek bebek. Tampak belum ada kesediaan sama sekali untuk
mendengarkan. Mendadak saya ingat lagu Slank. Saya pun segera
menyanyikan dan meminta mereka untuk nyanyi bareng. Setelah itu baru
perhatian ada. Inilah cara yang kemudian saya sebut sebagai prinsip making
friend. Yakni dengan selera dan situasi para pendengar, sehingga mereka
merasa akrab dan jadi teman kita, atau mereka merasa kita termasuk bagian
mereka.
٭ Menghubungkan dengan hari-hari besar ketika berceramah. Misalnya,
ketika seorang penceramah diminta ceramah tentang puasa di hari awal-
awal puasa, ia bisa mengatakan:
“Alhamdulillah, kita semua bersuka cita dapat bertemu kembali dengan
bulan suci Ramadhan. Bulan yang berarti peleburan atau pembakaran
karena dapat melebur seluruh dosa lalu kita. Nabi Saw bersabda: Barang
siapa yang bergembira dengan datangnya bulan suci Ramadhan, niscaya
dosa lalunya diampuni.
Sekarang, bagaimanakah agar bulan penuh ampunan ini, sebagaimana
disabdakan Nabi barusan, benar-benar bisa membakar seluruh dosa-dosa
kita? (misalnya judul/topic ceramah ini adalah: Ramadhan penuh Ampunan)
٭ Dengan cerita yang hidup, dramatis dan menyentuh, yang cocok dengan
Pokok/topic pembicaraan. Misalnya, waktu saya ceramah tentang Bahaya
Narkoba di depan para remaja dan pemuda, saya antari dengan cerita
pengalaman saya sendiri.
“Bicara soal bahaya narkoba, kebetulan saya ditakdirkan Allah pernah
mengalaminya sendiri. Saya yang sudah merasakan bagaimana pahit
getirnya keluar dari jeratan setan ini!”
٭ Menghubungkan topic ceramah dengan tempat kita berceramah, misalnya
gedung bersejarah, lapangan, mesjid tua, dan sebagainya. Misalnya,
Mohammad Nasir pernah mengawali pidato (ceramah) sebagai berikut:
“Saudara-saudara“
Saudara-saudara sekarang ini berkumpul dalam satu gedung yang
bersejarah. Sekiranya dinding-dinding dari gedung ini dapat berbicara,
maka banyaklah kisah yang dapat kita dengarkan. Kisah yang tempo-tempo
menggemberikan hati dan kadang-kadang menyedihkan pula. Memang
demikianlah sunatullah dalam hidup duniawi dalam semua bidang
kehidupan. Kisah khair dan syar silih berganti.
٭ Menyodok keprihatinan/kepentingan pendengar yang berkaitan dengan
topic pembicaraan. Misalnya dalam mengawali ceramah tentang pentingnya
Hidup Beretika, seorang penceramah berkata:
“Saudara-saudaraku rahimakumullah “
Sudah jadi rahasia umum bahwa krisis bangsa yang sudah lama kita derita
ini berawal dari krisis moral, terutama karena merajalelanya praktik-praktik
KKN. Keadaan ini akan terus memburuk bila kita tidak mencegahnya,
bahkan akan mengancam anak cucu kita sendiri. Mereka yang sudah repot-
repot kita sekolahkan, kelak seperti akan mendapat dosa warisan: mereka
akan makin sulit mendapat pekerjaan dan terancam pengangguran karena
kesempatan kerja hanya terbatas buat mereka yang mau dan bisa KKN saja.
٭ Memulai dengan pernyataan yang membersitkan bahwa apa yang akan
disampaikan benar-benar merupakan pemahaman baru, segar dan orisinil.
Seorang penceramah ketika mengawali ceramahnya tentang Haji sebagai
Puncak Rukun Islam, mengatakan:
“Sebagai tahadduts binni’mah, saya katakana tak kurang dari 15 tahun
saya belajar agama. Namun baru kali ini saya menyadari bahwa rukun Islam
itu ternyata bukan sekedar berurutan, tapi juga berperingkat di mana haji
merupakan puncaknya. Ibarat tangga, haji adalah puncak yang membawahi
anak-anak tangga rukun islam lainnya.
٭ Dengan menyentuh keprihatinan psikologis pendengar. Dalam khutbahnya
tentang Meraih Kembali Harga Diri di Amerika, Ust. Dr. Jalaluddin
Rahmat mengawalinya dengan:
Adalah pedih menyadari bahwa kita, kaum Muslimin, dewasa ini
bukanlah penguasa-penguasa bumi sebagaimana seharusnya. Kita akan
merasa malu bila kita tahu bahwa ummah ini, yang mengklaim sebagai
ummah terbaik, hanyalah sebuah mainan kecil yang berada di tangan para
kafir dan musyrik. Untuk meredakan perasaan ini, biasanya kita berpaling
ke masa lalu yang gemilang, ketika kaum Muslimin menaklukkan lebih dari
separuh dunia, ketika suara muazin merupakan nada musical terbaik
dunia…
٭ Dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk intropeksi. Dalam
khutbahnya tentang Tanda-Tanda Orang yang Shalatnya Diterima Allah
Swt, Ust. Jalaluddin Rahmat mengawalinya:
Sidang Jumat yang Mulia
Sudah sering kita dengar bahwa shalat adalah tiang agama, bahwa shalat
adalah amal yang paling dahulu diperiksa di hari kiamat. “Bila shalatnya
baik, baiklah seluruh amalnya; bila shalatnya rusak, rusak jugalah seluruh
amalnya.” Begitu sabda Rasulullah Saw. Sesekali mungkin kita
merenung:”Baikkahshalat yang kita lakukan?” Sewaktu-waktu mungkin kita
bertanya, “Apakah shalat kita diterima Allah Swt?” Bukankah Allah
berfirman “Celakalah orang-orang shalat?” Bukankah Nabi Saw pernah
bersabda bahwa ada orang yang shalat dan shalatnya dilipat Allah, seperti
pakaian pada hari kiamat dan dilemparkan ke wajahnya; Allah tidak
menerima shalatnya?
٭ Dengan penyataan yang mengharukan. Misalnya pernyataan yang
menyentuh hati kecil pendengar, betapa kita sebagai manusia sangat kecil di
hadapan kebesaran Allah. Dalam sebuah khutbah Idul Fitri berjudul
Berbahagialah orang yang menyucikan dirinya, Ust. Jalal mengawalinya:
Hari ini kita berkumpul kembali, duduk di atas tanah yang dingin, di
lapangan terbuka, dinaungi langit yang membentang tak terhingga. Baru
saja di tempat ini kita bersama-sama menggemakan pujian kebesaran
kepada Allah Swt sehingga langit di sekitar kita gemuruh dengan suara
takbir. Setelah itu, kita serentak sujud, meratakan dahi di atas tanah seraya
mengucapkan pengakuan kita akan kebesaran Allah: “Subhana rabbiyal a’la
wa bihamdih.”
٭ Dengan pantun atau cerita lucu. Ini cara yang paling sulit, apalagi bila para
hadirin sudah ngantuk. Namun ia sekaligus cara paling efektif untuk
mengusir rasa ngantuk mereka. Ketika malam sudah larut, tibalah giliran
penceramah terakhir. Para hadirin sudah ngantuk berat. Acaranya dalam
rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. Sang penceramah
dengan lantangnya mengatakan:
Saya hanya akan ceramah sebentar saja, karena kita sudah lelah dan
ngantuk… (kira-kira setelah itu dia memberondong pantun dan cerita-cerita
lucu berkaitan dengan kebiasaan/kehidupan pendengar sendiri, hingga
akhirnya pendengar dibuatnya tertawa riang.
Kesimpulannya, dalam berkreasi menyusun pengantar ceramah, tidak ada cara yang bisa langsung dijiplak. Kita hanya bisa belajar dari model-model ceramah yang sudah ada, memilah mana yang terbaik dan dari situlah lalu kita kembangkan sendiri sesuai dengan kebutuhan kita.
Tahap Penyampaian Ceramah
Tahap penyampaian merupakan unsure terpenting dalam ceramah, karena khalayak hanya dapat menilai sewaktu kita berceramah saja (jadi tidak melihat bagaimana kita memproses ceramah tersebut). Seorang orator ulung ketika ditanya apa unsur terpenting dari ceramah, dia menjawab: Penyampaian. Ketika di Tanya kedua dan ketiga kalinya, dia tetap menjawab penyampaian.
Kalaupun tahap penyampaian ini paling menentukan, dan biasanya sangat mendebarkan terutama bagi pemula, tapi tahap ini sebenarnya hanya tahap lanjut dari tahap-tahap sebelumnya. Yakni satu tahap akhir yang bila seseorang sudah cukup terlatih, sebenarnya jauh lebih mudah dari tahap sebelumnya. Dalam tahap ini sebenarnya kita tinggal meng acting kan apa yang sudah jelas dalam benak. Jadi repot yang sebenarnya lebih pada proses penyusunan, sedangkan pada tahap penyampaian sebenarnya sudah tinggal “mudahnya” saja.
Jadi inti penyampaian adalah Acting. Yang di maksud acting disini adalah mengutarakan apa yang sudah jelas di benak dengan mengerahkan seluruh kekuatan ekspresi, mulai dari dalam jiwa, lalu ekpresi suara, mimic muka, gerak tubuh, kontak mata, dan seterusnya, persis seperti ketika kita main teater.
Untuk mengahasilkan acting penyampaian yang maksimal. Kita perlu memenuhi tiga rukun. Yaitu: 1) Kontak mata dengan para hadirin; 2) Olah vocal; 3) Olah tubuh/bahasa tubuh, yakni berbicara dengan seluruh kepribadian kita: mimic muka, tangan, tubuh, dan seterusnya.
Cara Kontak Mata
Teknik pertama menjalin hubungan adalah dengan melihat langsung kepada khalayak. Anda tidak mungkin melihat mereka satu per satu. Tetapi, sapukan pandangan anda ke semua hadirin. Pada titik-titik tertentu adna melihat orang-orang yang anda pilih sebagai waik dari salah satu bagian hadirin. Bila ini pun sukar, paling tidak pandanglah hadirin secara keseluruhan dengan perhatian terbagi. Lakukan seperti sopir yang memandang semua hal yang berada didepannya. Tidak terpusat, tetapi terlihat semua. Ini berarti selama ceramah mata kita harus terus tertuju memperhatikan mereka. Jadi selama cerama jangan terlalu sering melihat catatan atau mata kita memandang jauh keluar ruangan atau ke atas bangunan atau kemana saja karena serta merta hadirin pun tidak akan memperhatikan kita. Dengan kontak mata pun kita sebenarnya bermaksud untuk membaca respon mereka terhadap ceramah kita, baik respon kata-kata maupun yang bukan kata-kata.
Cara Olah Suara
Pengaruh suara begitu kuat sehingga tanpa kata pun, ia sudah mengandung makna. Untuk menghasilkan suara yang maksimal, biasanya olah suara melatih 3 aspek suara sekaligus, yaitu: nada, kecepatan bicara (rate), dan hentian/jeda. Ketika kita ceramah/bicara, ketiga aspek ini harus kompak kita terapkan sekaligus.
Mari kita kupas lebih detail pembahasan di atas:
Nada.
Dalam bagian pengantar, sebaiknya nada suara kita sedang (atau agak rendah sedikit). Ibarat dalam awal lagu, dalam lagu biasanya kita disuguhi “sentuhan” suara-suara halus yang memesona, yang membuat kita terpancing asyik ingin mendengarkan terus bagian selanjutnya. Nada dibagian pengantar ini akan kita jadikan patokan/acuan untuk turun naik nada-nada pada bagian-bagian berikutnya.
Hal yang paling tabu dalam pengaturan nada adalah jangan sampai nada-nada berikutnya turun melorot atau melonjak drastis melebihi “tangga” nada awal. Bila ini dilanggar, nada ceramah kita akan terasa jomplang, turun naik tidak karuan dan akhirnya tidak mendapat tempat/srek di jiwa pendengar.
Menginjak ke bagian isi, nada suara sudah mulai menanjak. Dan pada bagian akhir (kesimpulan) nada suara sedang lagi. Secara detailnya adalah nada tinggi digunakan untuk menekankan bagian-bagian penting yang kita tegaskan. Sedang nada datar dan rendah biasanya untuk hal/materi yang dibahas sepintas lalu karena pendengar dianggap sudah tahu atau tidak perlu tahu detail. Misalnya dalam bagian pengantar, hal yang penting adalah ketika menyuguhkan topic/pokok pembicaraan. Topic ini benar-benar harus kita tancapkan dalam hati pendengar agar mereka tertarik dan dapat mengikuti pembicaraan lanjut. Karena itu pada saat bagian ini nada kita harus lumayan tinggi. Tentu nada tingginya tidak boleh melanggar kaidah umum nada pada bagian pengantar, yakni tidak tinggi menyamai bahkan melebihi nada-nada tinggi pada bagian-bagian penting entah pada bagian isi; karena bagaimanapun bagian isi jauh lebih penting.
Rate/Kecepatan bicara.
Bicara terlalu cepat bisa mengakibatkan pendengar tidak bisa mengikuti jalannya pembicaraan. Terlalu lamban pun akan mengakibatkan pembicaraan terasa lamban dan terlalu bertele-tele. Kedua dampak ini sangat berbahaya karena membuat pendengar tidak bisa mengikuti isi ceramah dan tidak akan tertarik lagi mengikuti ceramah kita. Aturan kecepatan bicara secara umum sebagai berikut. Bila kita sedang membicarakan hal-hal yang sulit, sedangkan pendengar harus mengerti maka sebaiknya kita melambankan pembicaraan. Ini untuk memberi kesempatan mereka untuk berpikir,menangkap dan mencerna apa yang kita katakan. Bila kita bicara dalam ruangan yang sangat besar, yang sedikit menimbulkan resonansi/gema suara, kita pun sebaiknya bicara agak lamban. Ini agar resonansi tidak mengganggu penangkapan terhadap suara kita. Selanjutnya, bila kita ingin menekankan hal-hal penting, kita juga perlu agak memperlambat. Jadi selain dengan meninggikan nada, untuk penekanan diperlukan perlambanan bicara.
Hentian/Jeda
Hentian ini sangat penting artinya untuk memberi nafas, atau kesempatan untuk berpikir pada otak. Hentian atau jeda sebentar (dalam tulisan biasanya ini sama dengan fungsi koma:berhenti lebih sebentar daripada titik) bisa digunakan untuk menggenapkan penekanan kita pada hal-hal penting. Bagian-bagian penting itu akan terasa sangat ditekankan bila memakai jeda ini, di samping dengan nada tinggi dan pelambanan bicara. Hal yang paling tabu dalam hentian, jangan sampai setiap hentian ini kita sering mengatakan, “iya”, “apa namanya”, “anu”, “eh”. Bunyi-bunyi tanpa arti ini akan mengesankan kita kurang siap dan tidak lancar bicara.
Tepat sebelum anda menyampaikan suatu poin penting, berhentilah berbicara selama 3 hingga 5 detik. Pada saat tersebut, jangan bergerak, pertahankan kontak mata, dan bersikaplah seakan-akan anda sedang mempertimbangkan ucapan anda selanjutnya. Ucapkan pemikiran anda dengan kepastian, keyakinan, dan kegairahan. Seringkali, karena kegairahan terhadap materi presentasi, pembicara berbicara dengan cepa,t bergerak dari satu poin ke poin lain, dan ini perlu diwaspadai.
Satu aspek lagi yang perlu diperhatikan untuk menyempurnakan olah suara adalah durasi. Durasi menunjukkan lamanya waktu yang diperlukan untuk mengucapkan satu suku kata. Untuk lebih gampangnya kita berikan contoh. Seorang penceramah, misalnya, memasuki bagian kesimpulannya berkata: “hal yang paling penting kita jaga dalam hidup ini adalah: rasa takwa”.
Mohon beri jeda pada tanda koma, lalu beri tekanan nada tinggi pada suku kata pertama: paling, beri “mad” (dibaca panjang) pada huruf a dari kata paling tadi. Beri jeda yang lebih panjang pada tanda :, insya Allah anda bisa membedakan pengaruhnya.
Satu satu hal pertama yang akan di amati oleh pendengar adalah postur tubuh anda. Mengapa? Indra terkuat adalah mata. Rute saraf dari mata ke otak 25 kali lebih besar dibandingkan rute saraf dari telinga ke otak. Pendengar dapat mengetahui apa yang anda rasa dan pikirkan semata-mata dari gerakan dan cara anda berdiri. Lakukan hal ini: Sebelum anda memulai presentasi, bahkan saat anda mendekati bagian depan ruangan, tampakkan sikap percaya diri, antusiasme, dan kesungguhan sepenuhnya. Tariklah nafas panjang. Keluarkan segenap pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang menjadi dasar kepercayaan diri anda. Tersenyumlah dan biarkan tubuh anda mengeskpresikan kondisi batiniah anda yang demikian. Keharmonisan antara kondisi batiniah dan fisiologi lahiriah anda sangat berpengaruh (untuk tampil percaya diri). Pendengar menangkap ketakutan dan kegelisahan kecil yang remeh dengan jalan mengamati sikap tubuh anda. Sebaliknya, mereka dapat mendeteksi kepercayaan diri, keyakinan, dan kredibilitas semata-mata dari cara anda berdiri dan bergerak.
Bahasa Tubuh
Kontak mata dan olah suara akan maksimal bila digabung dengan bahasa tubuh. Seperti pada waktu acting di teater ataupun film, gerak sangatlah menentukan ketika menyampaikan ceramah. Tanpa isyarat tubuh, maka penceramah akan terkesan seperti patung; diam tanpa ekspersi. Bila kita bicara semangat sampai meledak-ledak, namun kedua tangan kita hanya diam tanpa gerak tinju ke atas, apa yang terjadi? Tentu semangat ucapan itu akan jadi pincang. Selain memperkuat makna, gerak juga bisa menarik dan memelihara perhatian. Gerak memang merupakan pemicu perhatian, Karena secara alami perhatian manusia cenderung ke hal-hal yang bergerak. Misalnya ketika kita sedang jalan ke mall, mata kita seperti tertarik untuk melihat huruf/gambar iklan yang bergerak. Biasanya kita sangat grogi menjelang beberapa saat mau ceramah. Tapi begitu ceramah, beberapa menit kemudian grogi lambat laun sirna. Nah salah satu yang menghilangkan itu adalah gerak kita.
Isyarat tubuh ini bisa macam-macam. Misalnya pertama, gerak seluruh tubuh. Yakni gerak dengan pindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain secara harmonis, dalam artian harus seiring dan seirama dengan gaya penyampaian dan isi pembicaraan. Ini biasa digunakan pada ceramah di panggung yang tidak memakai mimbar. Kedua, gerak dengan sebagian anggota tubuh, misalnya dengan gerakan tangan ke depan, kaki, bahu dan sebagainya. Ketiga,ekspresi wajah. Secara umum, gerak tubuh berfungsi untuk:
1. memperkuat makna ucapan
2. menarik dan mempertahankan perhatian
3. menumbuhkan kepercayaan diri dan semangat penceramah sendiri
Setelah mengenal metode ini semua hal yang jauh lebih penting adalah langsung mempraktikannya. Cara yang paling efektif untuk mempraktekkannya di depan cermin. Setelah maksimal latihan sendiri di depan cermin, kemudian kita meminta penilaian dan nasihat dari teman atau orang terdekat. Rajin-rajinlah mengamati gerak tubuh para penceramah, lalu coba kita tirukan di depan cermin. Untuk mengasah ketrampilan kita dalam olah tubuh.
Teknik-Teknik Humor
Apa yang menjadi sebab orang tertawa?
Pertama, keganjilan, atau tepatnya hal di luar standar anggapan normal kita. Termasuk bersifat kekurangan/cacat. Misalnya, sosok orang cebol, orang budeg, oran gyang bibir dan giginya sangat monyong, tubuh yang pendek dan bongsor/gemuk dan seterusnya. Kita mungkin boleh bertanya, kenapa keganjilan bisa menimbulkan kelucuan? Salah satunya karena keganjilan menimbulkan rasa superioritas kita atas objek yang di anggap ganjil tadi. Kita secara alamiah suka tertawa ketika melihat cara jalan, mohon maaf, orang cebol, karena kita merasa lebihdari orang tersebut.
Sebab kedua, Kejutan mendadak. Orang akan tertawa bila secara mendadak menemukan kejutan tiba-tiba. Teknik untuk memberi kejutan mendadak adalah “belokan mendadak” (unexpected turn). Kebanyakan humor sebenarnya memakai teknik ini, misalnya: Beberapa orang sipir penjara mendapat kesempatan bermain kartu dengan seorang napi. Ternyata napi itu mengecoh mereka. Lantas mereka marah dan menendang napi itu keluar penjara!
Teknik humor:
Eksegrasi
Melebih-lebihkan akan menimbulkan rasa lucu, bila tindak melebih-lebihkan itu bisa diterima (tidak menghina). Apa respon anda bila melihat seorang pelawak yang sangat monyong bibirnya, lalu memonyong-monyongkan lagi bibirnya? Biasanya ada kelucuan di situ.
Parodi
Yaitu bentuk peniruan secara ganjil terhadap karya orang lain dengan maksud melucu. Karyanya bisa lagu, puisi, gaya pidato dan sebagainya. Syaratnya karya yang ditiru itu sudah sangat terkenal di kalangan ramai. Ada dua unsur yang menonjol dari parodi yang menyebabkan lucu. Pertama adalah peniruan yang sedemikian persis. Kedua, ada unsure “pengejekan”, ada unsur “sikap kurang ajar” dan “meledek” terhadap tokoh yang dulu kita sanjung-sanjung dan hormati.
Istilah-istilah resmi lainnya bisa diparodikan. Misalnya Telorisme, bergincu dalam melodi, Dunia dalam derita, Konfrensi Nona Blok A, dan sebagainya.
Anekdot
Yaitu kisah menarik dan lucu yang berkaitan dengan para tokoh besar yang sudah akrab dan mendapat tempat dalam hati kita. Sifat dan watak pribadinya bahkan sudah masyhur di kenal. Mereka bisa tokoh para sufi, filosof, fuqaha, para nabi, sahabat, penyanyi dan sebagainya.
Puns
Puns sebenarnya tidak jauh beda dengan teknik belokan mendadak. Keduanya sama-sama memberi kejutan. Hanya beda cara. Belokan mendadak “mengecoh” pendengar dengan menggunakan belokan scenario/alur cerita. Sedang puns mengecoh dengan menggunakan permainan kata. Contoh: saya menolak dia karena pertimbangan kepribadian. Dia ga punya kendaraan pribadi, sopir pribadi, perusahaan pribadi dan rumah pribadi.
Pantun
Pantun juga memberi kejutan, yakni dengan permainan susunan kata khas pantun. Karena mengandalkan kejutan, pantun biasanya terasa lebih segar dan lucu bila tampak dibuat spontan pas pada waktu acara tertentu. Misalnya dari pantun Ginanjar sewaktu jadi juri Dai Cilik. Ada perserta bernama Imron, ceramahnya cukup memukau. Maka Ginanjar dengan spontan mengubah:
Banyak laron dimakan toke
Ceramah Imron memang oke
“Jika anda tidak berusaha melakukan sesuatu melampaui apa
Yang telah anda kuasai, maka anda tidak akan pernah tumbuh.”
Ralph Waldo Emerson
Cairo, Wednesday 9 January 2008. 11:53 pm.