Tuhanku, lindungilah aku
Aku mau korupsi
Hanya kepadamu aku memohon
Hanya kepadamu aku memohon perlindungan
Tuhanku, lindungi aku
Aku mau korupsi…

(Remy Sylado)

Ha..ha, itulah “Doa Orang Waras” ala Indonesia. Ada juga lawakan yang menertawakan diri sendiri, seperti cerita versi Perang Teluk. Setiap pesawat terbang dengan bendera Irak lewat langsung dirudal oleh AS, dan setiap pesawat terbang AS lewat selalu di-Scud oleh Irak. Ketika melintas pesawat dengan bendera Indonesia, mereka tidak menembaknya. “Biarkan saja, akan jatuh sendiri,” komentar mereka. HAHA..

Suatu ketika, prajurit TNI menyerahkan bantuan seperangkat komputer kepada para pemuda di salah satu desa di Aceh. Namun apa lacur, mereka membuang begitu saja komputer tersebut ke laut. Pasalnya, di komputer tersebut tertulis kalimat, “Intel Inside”. HAHA.

Seperti kebiasaan sopir bajaj, seorang tukang becak nyelonong begitu saja tak mengindahkan peringatan lampu lalu-lintas. Akibatnya, sumpah serapah “goblok” dari pengemudi kendaraan lain pun berhamburan. Apa jawab sang tukang becak? “Lho, kalau nggak goblok ’kan ya nggak mbecak, toh mas.” Hehe, nggak begitu lucu ya ..

Karena itu, jangan pernah meremehkan otak orang Indonesia, kata Putu Wijaya. Otak bangsa Indonesia sangat digemari dan jadi rebutan di antara calon penerima donor otak manusia. Di bursa pasar gelap, harga otak manusia Indonesia dikabarkan paling tinggi. Setiap ada persediaan hampir bisa dipastikan langsung laku terjual. Orang-orang pun heran. Mengapa bukan otak orang Yahudi yang terkenal cerdas-cerdas itu yang diburu? Mengapa bukan otak orang-orang Jepang, yang tersohor memiliki kemampuan tinggi dalam bidang teknologi, yang diperebutkan? Atau, mengapa tidak otak orang Cina yang sudah dikenal luas lihai berbisnis? Mengapa justru otak orang Indonesia? Setelah dilakukan semacam penelitian, ternyata persepsi para penerima donor otak dalam menentukan pilihan bukan pada standar umum seperti asumsi di atas. Jawab mereka: “Habis, otak orang Indonesia rata-rata masih mulus. Soalnya jarang dipakai!” HAHA..

Beberapa hari setelah resmi menjadi presiden, di depan sebuah pertemuan internasional di Bali, Gus Dur si “raja humor” itu berbicara tentang dirinya dan juga tentang wakil presidennya, Megawati Soekarnoputri. “Kami berdua akan jadi sebuah tim yang sempurna,” ujar Gus Dur dalam bahasa Inggris. “Saya tak bisa melihat, dia tak bisa omong.” Ha ha, kelakar Gus Dur ini disambar derai tawa.

Guyonan menertawakan bangsa sendiri, juga dibuat oleh Handrawan Nadesul, dokter yang juga penulis puisi itu. Alkisah, seorang sopir taksi asal Sumatera Utara yang bergurau kepada penumpangnya berceloteh, “Kayak di Bosnia saza,” ketika melintasi jalan raya berlubang di Ibu Kota, yang pajak mobilnya tertinggi di Indonesia, tetapi aspalnya sudah bagai kubangan kerbau!! Atau, rakyat Indonesia yang susah marah dan pandai tersenyum, bayangkan penumpang bus sudi duduk di lantai bus atau malah bergelantungan, padahal membayar ongkos penuh, bahkan tak marah diturunkan seenaknya di tengah jalan sebelum tiba ke tujuan, dan mereka masih bisa tertawa. Anehnya lagi, orang Indonesia masih sering takut kepada polisi kendati tidak bersalah. Masih tetap menaruh hormat kepada pejabat, kendati sudah banyak proyek yang dikorupsi.

Hehe, kalau Anda enggak bisa tertawa, ya senyum-senyum sajalah. “Kan menurut Frank S. Caprio, senyum dapat mengusap wajah serasa bercahaya, membuat kedip mata bersinar apik, membuat bibir menarik cantik, membentuk garis-garis indah resik di sekitar pipi. Senyum juga membuat orang lebih merasa enak, dan jiwa menjadi lebih hidup. Begitu??